Blangpidie (ANTARA Aceh)- Pemerintah Aceh Barat Daya (Abdya) melalui Badan Lingungan Hidup Kebersihan dan Pertamanan (LHKP) tahun 2015 ini melaksakan penanaman belasan ribu pohon di sempadan pantai dan sungai. Program tersebut dilakukan dalam rangka menghadapi dampak perubahan iklim dan juga untuk kelestarian lingkungan.
“ Sejenis pohon mangrove, waru dan ketapang, pohon ini kita tanam di muara-muara. Sedangkan pohon sukun dan jengkol ditanamn sumber mata air di sempadan sungai-sungai besar,†kata kepala LHKP Abdya, Indra Sukma di Blangpidie Jum’at
Didampingi kabig pengawasan pengendalian lingkungan, Hj Sabrina. Ia menyebutkan, lokasi penanaman mangrove, waru dan ketapang di fokuskan pada sejumlah muara seperti di kuala Sangkalan, Rubek Meupayong, Ujung Tanah, Setia Budi, Blangpadang, Padang Kawa, Lhok Pawoh dan Kuala Manggeng.
“sekarang masih tahap proses perencanaan, sumber anggarannya dari Dana Alokasi Khusus 2015. Berhubung dana terbatas, untuk tahun ini kita tanam 11 ribu pohon dulu, tahun depan kita tambah lagi, jadi, bertahap-tahap,â€katanya
Di sela-sela peninjauan lokasi penanaman di muara Sangkalan Kecamatan Susoh, Ia mengatakan, mamfaat dilakukan penanaman pohon tersebut, selain untuk pengendalian dampak perubahan iklim, juga untuk mengantisipasi terjadinya abrasi pantai dan dapat menahan resepan air laut ke daratan termasuk penahan bencana angin badai bermuatan garam.
Selain dari itu, tambahnya, masyarakat petani yang bermukim di pesisir pantai juga mendapatkan mamfaat yang besar, sebab, tanaman mangrove yang kita tanam di muara ini nantinya juga bakal menjadi tempat berkembang biaknya ikan, udang dan kepiting.
“jika pohon mangrove sudah besar, keuntungan petani nelayan juga besar karena udang dan kepiting sudah mudah di dapatkan. Jadi, semua pihak beruntung dengan program tanam pohon ini,†katanya
Selain di wilayah sempadan pantai dan muara, sambungnya, program tanam pohon di sempadan kawasan non artifisial kanan-kiri sungai berhulu tinggi seperti sungai Seumayam, sungai Babahrot, sungai Susoh dan sungai Manggeng. Keempat aliran sungai tersebut, sambungnya paling sering terjadinya abrasi dan lonsor karena intensitas perubahan lahan yang tinggi berdampak di sepanjang bantaran sungai itu.
berhubung Anggaran Pendapatan Belanja Kabupaten terbatas, sehingga untuk program kelestarian lingkungan dan pengelolaan ruang terbuka hijau di sepanjang bantaran empat sungai besar tersebut belum dapat kita lakukan pada tahun 2015 ini. tutur Indra
“kalau di lembah pengunungan Abdya semuanya ada terdapat 47 sungai dengan luas 1.797.21 hektar. Jadi, kita butuh dana 10 milyar untuk melakukan penghijauan kembali,â€katanya
Ia berharap, pemerintah tingkat pusat mau membantu mengalokasikan dana untuk program penghijauan dikawasan non artifisial di kanan kiri sungai besar itu agar dapat mengurangi resiko lonsor dan dapat memparbaiki cadangan air tanah.
“Bapak bupati sudah mengajukan juga permohonan ke pada kementerian Lingungan Hidup, moga saja pemerintah tingkat pusat mau mengalokasikan anggaran untuk program penghijauan dalam menghadapi isu dampak perubahan iklim , mitigasi dan adaptasi di nusantara ini,†demikian Indra Sukma. (*)
“ Sejenis pohon mangrove, waru dan ketapang, pohon ini kita tanam di muara-muara. Sedangkan pohon sukun dan jengkol ditanamn sumber mata air di sempadan sungai-sungai besar,†kata kepala LHKP Abdya, Indra Sukma di Blangpidie Jum’at
Didampingi kabig pengawasan pengendalian lingkungan, Hj Sabrina. Ia menyebutkan, lokasi penanaman mangrove, waru dan ketapang di fokuskan pada sejumlah muara seperti di kuala Sangkalan, Rubek Meupayong, Ujung Tanah, Setia Budi, Blangpadang, Padang Kawa, Lhok Pawoh dan Kuala Manggeng.
“sekarang masih tahap proses perencanaan, sumber anggarannya dari Dana Alokasi Khusus 2015. Berhubung dana terbatas, untuk tahun ini kita tanam 11 ribu pohon dulu, tahun depan kita tambah lagi, jadi, bertahap-tahap,â€katanya
Di sela-sela peninjauan lokasi penanaman di muara Sangkalan Kecamatan Susoh, Ia mengatakan, mamfaat dilakukan penanaman pohon tersebut, selain untuk pengendalian dampak perubahan iklim, juga untuk mengantisipasi terjadinya abrasi pantai dan dapat menahan resepan air laut ke daratan termasuk penahan bencana angin badai bermuatan garam.
Selain dari itu, tambahnya, masyarakat petani yang bermukim di pesisir pantai juga mendapatkan mamfaat yang besar, sebab, tanaman mangrove yang kita tanam di muara ini nantinya juga bakal menjadi tempat berkembang biaknya ikan, udang dan kepiting.
“jika pohon mangrove sudah besar, keuntungan petani nelayan juga besar karena udang dan kepiting sudah mudah di dapatkan. Jadi, semua pihak beruntung dengan program tanam pohon ini,†katanya
Selain di wilayah sempadan pantai dan muara, sambungnya, program tanam pohon di sempadan kawasan non artifisial kanan-kiri sungai berhulu tinggi seperti sungai Seumayam, sungai Babahrot, sungai Susoh dan sungai Manggeng. Keempat aliran sungai tersebut, sambungnya paling sering terjadinya abrasi dan lonsor karena intensitas perubahan lahan yang tinggi berdampak di sepanjang bantaran sungai itu.
berhubung Anggaran Pendapatan Belanja Kabupaten terbatas, sehingga untuk program kelestarian lingkungan dan pengelolaan ruang terbuka hijau di sepanjang bantaran empat sungai besar tersebut belum dapat kita lakukan pada tahun 2015 ini. tutur Indra
“kalau di lembah pengunungan Abdya semuanya ada terdapat 47 sungai dengan luas 1.797.21 hektar. Jadi, kita butuh dana 10 milyar untuk melakukan penghijauan kembali,â€katanya
Ia berharap, pemerintah tingkat pusat mau membantu mengalokasikan dana untuk program penghijauan dikawasan non artifisial di kanan kiri sungai besar itu agar dapat mengurangi resiko lonsor dan dapat memparbaiki cadangan air tanah.
“Bapak bupati sudah mengajukan juga permohonan ke pada kementerian Lingungan Hidup, moga saja pemerintah tingkat pusat mau mengalokasikan anggaran untuk program penghijauan dalam menghadapi isu dampak perubahan iklim , mitigasi dan adaptasi di nusantara ini,†demikian Indra Sukma. (*)
Pewarta: Pewarta : SuprianUploader : Salahuddin Wahid
COPYRIGHT © ANTARA 2026