Meulaboh (ANTARA Aceh) - Pemerintah Kabupaten Aceh Barat merespon baik terhadap rencana PT Pertamina (persero) menambah produk Bahan Bakar (BBM) jenis baru yakni Pertalite untuk mengimbangi kebutuhan masyarakat.

Asisten Keistimewaan Aceh, Pembangunan dan Ekonomi Pemerintah Kabupaten Aceh Barat, Syahril di Meulaboh, Jumat mengatakan dengan digantinya bahan bakar bensin ke pertalite ini diharapkan menghapus premium subsidi karena tidak menyentuh banyak masyarakat miskin.

"Bensin itu harusnya memang sudah boleh dihapus karena sangat berbahaya, apalagi soal adanya subsidi yang untungnya adalah pihak lain, baiknya dimunculkan produk baru harga bisa dijangkau dan jatah subsidi digunakan untuk program pembangunan tepat sasaran," katanya.

Menurut dia, produk antara pertamax dan premium ini untuk penyesuaian mesin kendaraan keluaran baru, dimana produk mesin yang dibuat semakin cangih akan sangat beresiko apabila terus mengunakan premium bensin yang memiliki campuran RON 70 yang diproduksi untuk mesin keluaran lama.

Menurut mantan Kepala Dinas Pertambangan dan Energi (Kadistamben) Aceh Barat ini, sudah seharusnya pemerintah menyediakan bahan bakar yang sesuai dengan kendaraan keluaran terbaru, disamping juga dapat menekan tingkat kerusakan lingkungan dari polusi udara karena emisi.

"Kalau bensin murni, memang tidak bisa digunakan karena bukan hanya persoalan kerusakan pada mesin tapi juga manusia bisa rusak terkena penyakit kangker sebab RON 70. Menurut saya silakan saja diluncurkan pertalite ini," tegsnya.

Lebih lanjut dikatakan,  tidak banyak lagi negara yang memproduksi premium, karena itu BBM Pertamax yang saat ini digunakan masyarakat dunia juga merupakan premium yang diturunkan kadar RON dengan metoda campur aduk sehingga mencapai standar emisi dengan RON 88.

Meskipun masih ada produksi premium, namun sudah dibuatkan target pemanfaatan dalam kurun waktu tertentu, sehingga sebelum mencapai pada tahap kritis harus segera dicarikan solusi penganti energi terbaharu tersebut.

"Premium sekarang ini sebenarnya juga hasil olahan sehingga RON 88, sebagian yang di impor dari Singapura contohnya itu adalah premium RON 92 setelah diaduk importir dijual kemasyarakat dan pencampuran itu memang harus dilakukan untuk meningkatkan RON sesuai target," imbuhnya.

Menurut dia, dengan adanya produk tambahan PT Pertamina ini dapat mengimbangi kebutuhan masyarakat kelas menengah atas yang mungkin berkesempatan memiliki kendaraan kelas tinggi dengan anjuran pemakaian BBM sesuai spesfikasi mesin.

Terlabih lagi kata Syahril, dengan produk baru ini tidak membuat kendaraan yang sudah ada harus dibuang atau rusak, karena pemakaian premium bensin hanya beresiko tinggi untuk mesin kendaraan Euro 1-2.

"Mesin lama mengunakan Pertalite itu tidak beresiko dan cocok untuk mesin Euro 2-3 bahkan Euro 4. Tapi kalau mesin keluaran baru masih mengunakan premium bensin sangat berbahaya, untuk kedepan ini mana ada pabrik mesin bertahan untuk jenis keluaran lama," katanya menambahkan.

Terlebih lagi kata dia, dengan pengunaan BBM yang tepat sesuai anjuran akan membuat mesin kendaraan awet dan terjaga, program ini juga diharapkan dapat menekan tingginya pencemaran udara akibat pengaruh emisi kendaraan mesin.

Sebagian besar kendaraan dinas disetiap kabupaten/kota di Indonesia mungkin tidak perlu dikarantina atau digantikan karena hanya perlu disesuaikan, terpenting lagi dengan dihapusnya subsisi maka tidak akan membatasi kuota pendistribusian BBM kepada masyarakat yang bermaksud membelinya dengan jumlah tertentu.

"Kalau subsidi dihapus pastinya tidak mungkin lagi terjadi kelangkaan, masyarakat sudah bebas membelinya dengan jumlah tertentu dengan stok tidak terbatas sehingga aktivitas usaha apapun itu tidak ada yang terhenti hanya karena BBM langka," katanya menambahkan.



Pewarta: Pewarta : Anwar
Uploader : Salahuddin Wahid

COPYRIGHT © ANTARA 2026