Blangpidie (ANTARA Aceh) - Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) terus bekerjasama dengan Forum Pala Aceh untuk mendukung pengembangan komoditi pala sekaligus mendorong terbukanya pasar yang lebih luas demi tampilnya Aceh sebagai sentral produksi di Sumatera.
Bupati Abdya Jupri Hassannuddin melalui Asisten ekonomi pembangunan, M Nafis A Manaf di Blangpidie, Kamis, menjelaskan, sebagaimana data dari kementerian perdangangan RI, kebutuhan pala dunia mencapai 30 ribu ton per tahun, sehingga peluang pasar masih cukup besar.
Di sela-sela acara pembukaan rapat penyusunan rencana kerja Forum Pala Aceh, ia menyatakan, kebutuhan tersebut diperkirakan terus meningkat hingga 20 persen lima tahun depan.
"Peningkatan ini dikarenakan, Uni Eropa adalah pasar paling pontesial di dunia, sedangkan untuk kendali produksi, Indonesia memiliki kemampuan yang terbesar dengan memasok hingga 70-75 persen," katanya.
Besarnya kemampuan yang dimiliki negeri ini, lanjut dia, karena rata-rata produksi pala Indonesia mencapai 20 ribu ton per tahun, dimana sekitar 90 persen diantaranya di ekspor ke Eropa.
"Jadi, kalau sentral produksi pala terbesar di negeri kita ini masih di pegang oleh Maluku, sedangkan Aceh yang memiliki potensi yang memiliki sentral pala di sumatera perkembangannya masih lamban dan perlu dikembangkan lebih besar lagi," katanya.
Menurutnya, pertanian pala di Provinsi Aceh masih banyak terkonsentrasi di wilayah Kabupaten Aceh Selatan dengan luas areal 15 ribu hektare, sedangkan di Abdya total luas lahan pala 4.102 hektare yang terdiri dari tanaman yang sudah menghasilkan sekitar 1.669 hektare, sedangkan selebihnya belum menghasilkan.
"Produksi pala di wilayah kita ini rata-rata 500-600 kilogram per hektare per tahun. Jadi, kalau kita banding standar produksi, ini memang masih relatif rendah, sebab tanaman pala yang baik itu mampu memproduksi hingga 1.200 kilogram per hektare per tahun," katanya.
Menurutnya, kondisi tersebut merupakan sebagai petunjuk untuk kita bahwa sistem pertanian pala di Aceh masih belum memenuhi standar yang diharapkan, karena selain faktor hama penyakit, sistem pengembangannya pun masih belum standar.
"Secara garis besar bisa dikatakan bahwa sistem pertanian pala di Aceh ini belum dikelola dengan baik, sehingga usaha yang satu ini belum mengalami kemajuan yang berarti," katanya.
Oleh karena itulah, tambah dia, untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah bersama dengan Forum Pala Aceh terus bekerjasama untuk mendukung pengembangan komoditi pala sekaligus mendorong terbukanya pasar lebih luas lagi.
"Peningkatan kesejahteraan petani inilah yang perlu pembahasan bersama demi mendorong tampilnya Aceh sebagai salah satu sentral produksi pala di sumatera ini," katanya.
Pembukaan rapat penyusunan rencana kerja Forum Pala Aceh tersebut dihadiri Kepala Bappeda Aceh yang diwakili oleh Samsuar, Ketua Forum Pala Aceh, DR Mustafril, Kadis Perkebunan dan Kehutan Abdya, Herman Suryadi, Kepala Penyuluh Abdya, Ruslan Adli, Ketua Forum Pala Abdya, Zal Supran dan puluhan peserta dari Kabupaten Abdya dan Aceh Selatan.
Bupati Abdya Jupri Hassannuddin melalui Asisten ekonomi pembangunan, M Nafis A Manaf di Blangpidie, Kamis, menjelaskan, sebagaimana data dari kementerian perdangangan RI, kebutuhan pala dunia mencapai 30 ribu ton per tahun, sehingga peluang pasar masih cukup besar.
Di sela-sela acara pembukaan rapat penyusunan rencana kerja Forum Pala Aceh, ia menyatakan, kebutuhan tersebut diperkirakan terus meningkat hingga 20 persen lima tahun depan.
"Peningkatan ini dikarenakan, Uni Eropa adalah pasar paling pontesial di dunia, sedangkan untuk kendali produksi, Indonesia memiliki kemampuan yang terbesar dengan memasok hingga 70-75 persen," katanya.
Besarnya kemampuan yang dimiliki negeri ini, lanjut dia, karena rata-rata produksi pala Indonesia mencapai 20 ribu ton per tahun, dimana sekitar 90 persen diantaranya di ekspor ke Eropa.
"Jadi, kalau sentral produksi pala terbesar di negeri kita ini masih di pegang oleh Maluku, sedangkan Aceh yang memiliki potensi yang memiliki sentral pala di sumatera perkembangannya masih lamban dan perlu dikembangkan lebih besar lagi," katanya.
Menurutnya, pertanian pala di Provinsi Aceh masih banyak terkonsentrasi di wilayah Kabupaten Aceh Selatan dengan luas areal 15 ribu hektare, sedangkan di Abdya total luas lahan pala 4.102 hektare yang terdiri dari tanaman yang sudah menghasilkan sekitar 1.669 hektare, sedangkan selebihnya belum menghasilkan.
"Produksi pala di wilayah kita ini rata-rata 500-600 kilogram per hektare per tahun. Jadi, kalau kita banding standar produksi, ini memang masih relatif rendah, sebab tanaman pala yang baik itu mampu memproduksi hingga 1.200 kilogram per hektare per tahun," katanya.
Menurutnya, kondisi tersebut merupakan sebagai petunjuk untuk kita bahwa sistem pertanian pala di Aceh masih belum memenuhi standar yang diharapkan, karena selain faktor hama penyakit, sistem pengembangannya pun masih belum standar.
"Secara garis besar bisa dikatakan bahwa sistem pertanian pala di Aceh ini belum dikelola dengan baik, sehingga usaha yang satu ini belum mengalami kemajuan yang berarti," katanya.
Oleh karena itulah, tambah dia, untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah bersama dengan Forum Pala Aceh terus bekerjasama untuk mendukung pengembangan komoditi pala sekaligus mendorong terbukanya pasar lebih luas lagi.
"Peningkatan kesejahteraan petani inilah yang perlu pembahasan bersama demi mendorong tampilnya Aceh sebagai salah satu sentral produksi pala di sumatera ini," katanya.
Pembukaan rapat penyusunan rencana kerja Forum Pala Aceh tersebut dihadiri Kepala Bappeda Aceh yang diwakili oleh Samsuar, Ketua Forum Pala Aceh, DR Mustafril, Kadis Perkebunan dan Kehutan Abdya, Herman Suryadi, Kepala Penyuluh Abdya, Ruslan Adli, Ketua Forum Pala Abdya, Zal Supran dan puluhan peserta dari Kabupaten Abdya dan Aceh Selatan.
Pewarta: Pewarta : SuprianUploader : Salahuddin Wahid
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.