Tapaktuan (Antara Aceh) - Ketua LSM Rimueng Lam Kalut, Bestari Raden mengemukakan, keberadaan buaya di Sungai Lembang, Kecamatan Kluet Selatan, Kabupaten Aceh Selatan, sengaja dipelihara pengelola Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) untuk melindungi kawasan hutan lindung itu.

"Sebelumnya di sungai itu memang sudah ada buaya namun jumlahnya tidak banyak. Karena kawasan itu masuk TNGL yang notabenenya tidak hanya mengandung berbagai jenis flora juga memiliki berbagai jenis fauna yang keberadaannya wajib dilindungi," katanya kepada wartawan di Tapaktuan, Sabtu.

Informasi itu telah berkembang luas di tengah masyarakat pascakejadian seorang santri pesantren terpadu Darusy-Syuhada, Desa Pasie Lembang, Kecamatan Kluet Selatan diterkam buaya saat sedang mandi dengan beberapa orang temannya di Sungai Lembang persis dibelakang pondok pesantren tersebut, Jumat (9/9).

Menurut Bestari, kebijakan melepas liarkan sejumlah bibit buaya di sungai yang berada dalam wilayah TNGL tersebut berlangsung sekitar tahun 1998.

Sejumlah warga menyebutkan, pasca dilepas liarkan bibit buaya sekitar tahun 1998, buaya-buaya tersebut terus berkembang biak, sehingga jumlahnya sekarang ini diperkirakan telah mencapai puluhan bahkan ratusan ekor.

Keberadaan buaya itu, tidak hanya di Sungai Lembang yang berhulu ke Pucuk Lembang dikaki Gunung Leuser, melainkan telah menyebar ke sejumlah sungai lainnya di wilayah itu bahkan buaya yang terus menyebar melalui aliran ungai juga telah berkembang biak di Danau Laut Bangko, yang berada dalam wilayah Kecamatan Bakongan.

Kondisi ini telah mengundang keprihatinan masyarakat setempat, karena disatu sisi sungai merupakan tempat mereka lalu lalang mencari rezeki baik untuk pergi ke lahan perkebunan dan pertanian maupun sebagai tempat mereka mencari ikan sekaligus sebagai tempat mandi cuci kakus (MCK).

Sementara di sisi lain keberadaan buaya-buaya tersebut telah mengancam keselamatan jiwa mereka sendiri sehingga telah membuat masyarakat setempat menjadi tidak nyaman.

Menyikapi hal ini, Bestari Raden meminta kepada pihak pengelola TNGL seperti Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan Yayasan Leuser Internasional (YLI) harus bertanggungjawab, dengan cara meningkatkan pengawasan di lapangan untuk mencegah terus bertambahnya jatuh korban jiwa dari masyarakat.

Sebab, kata dia, salah seorang santri pondok Pesantren Darusy-Syuhada bernama Noval Firmansyah (12) bukan lah korban pertama akibat keganasan buaya di Sungai Lembang tersebut.

Pada tahun 2006, kejadian serupa juga telah menimpa salah seorang ibu rumah tangga bernama Syarifah Khairu yang diterkam buaya saat sedang mencuci pakaian di pinggir sungai desa setempat.

"Seharusnya pihak BKSDA dan YLI harus bertanggungjawab dengan cara melakukan pengawasan secara ketat di lapangan jangan justru membiarkan saja seperti itu," ujar dia.

Sebab, kata dia, meskipun keberadaan flora dan fauna dalam wilayah TNGL wajib dilindungi kelestariannya, tapi jika sudah mengancam keselamatan jiwa manusia maka pihak terkait harus segera mengambil langkah-langkah penanggulangan untuk mencegah kembali jatuhnya korban jiwa lebih banyak ke depannya," pinta Bestari.

Namun, sambung Bestari, jangankan ditanggulangi serta dilakukan pengawasan di lapangan untuk mencari petugas BKSDA dan YLI saja di Aceh Selatan cukup susah.

Meskipun Kantor BKSDA berada di Tapaktuan, tapi saat pihaknya mendatangi kantor tersebut sering kosong, sehingga sangat susah menjumpai petugas bersangkutan, katanya.

"Seharusnya dengan kejadian telah jatuh korban jiwa manusia seperti itu, mereka telah turun ke lokasi tapi kenyataannya di lapangan tidak satupun dari mereka yang tampak hadir untuk secara bersama-sama terlibat dengan tim BPBD, Satgas SAR dan TNI/Polri serta masyarakat setempat melakukan proses pencarian terhadap korban," sesalnya.

Sementara itu, Kapolres Aceh Selatan AKBP Achmadi SIK yang dikonfirmasi wartawan menyebutkan, proses pencarian terhadap korban hilang diterkam buaya yang belum membuahkan hasil kembali dilanjutkan oleh pihaknya bersama petugas BPBD, Satgas SAR Tapaktuan dengan dibantu Basarnas Pos Meulaboh serta masyarakat setempat.

Proses pencarian tersebut melibatkan puluhan petugas kepolisian bersenjata laras panjang dengan menggunakan beberapa rubber boat milik BPBD dan Satgas SAR serta perahu bermesin robin milik masyarakat setempat.

"Kami telah menyisir sepanjang Sungai Lembang dengan melibatkan pawang buaya dari Aceh Selatan. Dengan diawasi oleh pawang buaya, beberapa masyarakat setempat juga telah melakukan penyelaman ke dasar sungai yang keruh dan pekat itu namun sejauh ini belum membuahkan hasil," katanya.

Menurut keterangan dari tim penyelam, dibawah dasar sungai yang berkedalaman antara 5 hingga 8 meter itu terdapat sejumlah lobang berbentuk goa-goa. Karena goa-goa itu sangat sempit tim penyelam tidak berani memasukinya.

Proses pencarian pada Sabtu (10/9) juga akan dibantu oleh salah seorang pawang buaya asal Aceh Singkil bernama Edi Syahputra, dengan kehadiran pawang yang lebih berpengalaman ini mudah-mudahan akan membuahkan hasil, ucapnya.


Pewarta: Hendrik
Uploader : Salahuddin Wahid

COPYRIGHT © ANTARA 2026