Lhokseumawe (ANTARA Aceh) - Hasil survey Panglima Laot (lembaga hukum adat laut) menyebutkan, potensi laut Aceh menjadi lirikan bagi para nelayan luar negeri, sehingga kerap terjadinya praktek ilegal fishing di wilayah itu.
Panglima Laot Kabupaten Aceh Utara, Ismail Insya kepada wartawan di Lhokseumawe, Selasa menyatakan, hasil survey yang bekerjasama dengan FAO itu disebutkan di perairan Aceh terdapat sedikitnya 14 ribu jenis ikan dan 105 jenis udang.
Dikatakan, dengan banyaknya berbagai jenis ikan dan udang, memancing para nelayan luar untuk menangguk hasil perikanan di perairan Aceh, bahkan nelayan dari luar negeri kerap mencuri ikan di wilayah itu.
Ia menyatakan, wilayah perairan Aceh yang kerap terjadinya aksi pencurian ikan yaitu untuk wilayah pantai utara hingga timur dan untuk perairan Aceh wilayah Barat-Selatan, aksi pencurian ikan kerap terjadi di wilayah perairan Simeulue.
"Dua lokasi ini kerap terjadinya aksi pencurian ikan oleh nelayan luar, karena di dua lokasi tersebut, kaya akan potensi berbagai jenis ikan," ungkap Ismail Insya.
Ia menyatakan, dirinya juga mengapresiasi langkah Menteri Susi dalam bertindak tegas terhadap kapal-kapal ikan asing yang beroperasi di wilayah perairan Aceh dengan memberi perintah tegas untuk ditengelamkan.
"Dengan adanya tindakan tegas terhadap penenggelaman kapal-kapal tersebut telah memberi efek jera bagi nelayan asing yang mencuri ikan di wilayah perairan Aceh. Buktinya, aktivitas pencurian ikan diwilayah perairan Aceh telah berkurang," katanya.
Pewarta: MukhlisUploader : Salahuddin Wahid
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.