Meulaboh (ANTARA Aceh) - Para petani di Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh telah mengibarkan atribut berwarna kuning menandakan telah memasuki musim mengarap lahan sawah untuk menanam padi pada musim rendengan.
Samsuar (36), salah seorang petani Desa Blang Beurandang, di Meulaboh, Minggu, mengatakan, mereka mulai turun mengarap sawah pada pertengahan Oktober 2016, namun sempat terhenti karena daerah itu dilanda banjir luapan sungai.
"Begitu air banjir telah surut kami lanjutkan kembali menggarap sawah. Karena di sini keterbatasan air, sehingga memanfaatkan sisa air banjir, kondisi tanahpun masih labil, jadi sangat mudah digarap," katanya.
Beberapa kawasan yang terpantau telah mulai menggarap sawah seperti di area persawahan mencakupi Desa Pasie Jambu, Blang Beurandang, Desa Marek dan hampir semua desa berhampiran, kemudian di Kecamatan Meureubo, seperti di Desa Ranto Panjang serta beberapa desa lain yang berhampiran.
Masyarakat petani di daerah itu telah usai melakukan panen musim gadu pada akhir September 2016, sehingga saat bencana alam banjir baru-baru ini, semua lahan sawah sudah bersih, hanya tinggal menanti jadwal turun musim selanjutnya.
Tradisi melihat musim penghujan atau jadwal yang tepat turun ke sawah (keuneunong), merupakan kearifan lokal yang dilaksanakan petani sehingga bisa melakukan tanam serentak, panen serentak dan turun ke sawah secara serentak.
"Saat ini kita pada posisi musim rendengan, memang untuk jadwal turun ke sawah itu sudah terjadwal mulai Oktober 2016. Untuk jadwal tanam serentak itu pada awal November 2016, insyaallah 12 kecamatan petani sudah mulai mengarap kembali," kata Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Dintanak) Aceh Barat Safrizal.
Terkait dengan hal itu Pemkab Aceh Barat telah mempersiapkan semua sesuatu yang berkenaan dengan kebutuhan mendesak masyarakat dan petani, terutama terhadap ketersediaan benih padi dan kesiapan pasokan pupuk bersubsidi.
Safrizal menjelaskan, masyarakat petani hanya menebus Rp2.500/kg untuk pupuk bersubsidi yang akan didistribusikan oleh pihak terkait, masing-masing kelompok tani mengusulkan berapapun kebutuhan pupuk itu melalui pemerintah daerah.
Distanak bersama pihak terkait lainnya sedang terkonsentrasi terhadap musim tanam rendengan ini agar dapat dilakukan secara bersamaan, apalagi semua kawasan sentra pertanian tanaman pangan sudah menuntaskan panen gadu.
"Beberapa kelompok tani sudah mengusulkan kebutuhan mereka, kemudian kita sampaikan kepada pihak penyalur. Alhamdulillah saat benjir kemarin tidak ada tanaman padi petani yang rusak, semua sudah panen pada awal Oktober," jelasnya.
Safrizal menegaskan, bersama TNI, BP4K terus berupaya untuk pengadaan alat dan mesin pertanian (alsintan), terutama adalah mesin pembajak sawah sehingga semua lahan sawah bisa tuntas digarap secara bersamaan.
Terhadap kebutuhan air, meskipun masih ada kawasan yang ketergantungan airnya sangat tinggi dari air hujan "sawah tadah hujan", mereka mengupayakan dengan mengunakan mesim pompa di kawasan yang terjangkau sumber air.
"Memang perbandingan mesin pembajak sawah dengan luas area yang tersedia itu belum seimbang. Selain dibantu TNI, BP4K, kita juga juga terus berupaya mendatangkan mesin-mesin pembajak sawah dari provinsi," katanya menambahkan.
Data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Aceh Barat memiliki luas area sawah 17.410 hektare yang terdiri dari lahan sawah irigasi 1.174 hektare sementara sawah non irigasi (tadah hujan) seluas 16.236 hektare sepanjang 2015.
Pewarta: AnwarUploader : Salahuddin Wahid
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.