Kepala Lingkungan Garuda Desa Suak Indra Puri Yahya di Meulaboh, Senin, mengatakan, penemuan bahan peledak tersebut terjadi Minggu (19/1) sekitar pukul 15.30 WIB.
"Pada saat itu saat saya melihat ada sebuah besi bulat di atas pasir. Waktu saya periksa, ada kuncup seperti kepala mortir. Saya mundur dan menyampaikan kepada orang lain. Kemudian, benda itu ditarik sama anak muda," kata Yahya (58) di Meulaboh Minggu.
Yahya menyebutkan, keberadaannya di pantai lokasi penentuan bahan peledak itu mengecek pengerjaan pengerukan tanggul pengaman pantai yang sudah ambruk dihantam badai.
Sementara itu, Kapolres Aceh Barat AKBP Faisal Rivai melalui Wakil Kapolsek Johan Pahlawan Ipda Selamet mengatakan, kuat dugaan peluru roket tersebut merupakan bekas peninggalan tsunami 2004. Sebab, di kawasan pantai itu merupakan bekas asrama TNI dan Polri.
"Peluru mortir ini masih aktif dan kami sudah menyerahkannya ke tim penjinak bom Brimobda di Nagan Raya untuk dievakuasi. Ini mungkin peninggalan tsunami," katanya.
Ipda Selamet menjelaskan, pihaknya belum mengetahui kaliber atau ukuran serta negara pembuat buatan peluru roket tersebut. Sebab, bahan peledak yang ditemukan tersebut belum diperiksa secara detail.
Peluru roket tersebut ditemukan di seputar lokasi Kafe Taman Sari, Meulaboh. Temuan tersebut tidak sempat menghebohkan warga sekitar. Aparat kepolisian berjaga ketat dan tidak membenarkan warga berkumpul dan masuk ke daerah lokasi temuan bahan peledak tersebut.
Pewarta: Pewarta: HeruEditor :
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.