Aceh Tamiang (ANTARA) - Suara deru mesin boat itu tak lagi terdengar mencekam bagi warga Desa Lubuk Sidup dan Aras Sembilan. Sejak Selasa, 17 Februari 2026, sebuah jembatan gantung berkelir biru membentang gagah di atas arus sungai. Bagi mereka, inilah kado Ramadhan yang datang tepat waktu.

Ingatan Anwar JS masih terpaku pada petang kelabu di akhir November tahun lalu. Saat itu, air sungai naik dengan kecepatan yang tak masuk akal. Sampah kayu hutan berukuran raksasa menghantam rangka baja jembatan yang telah berdiri sejak 2008 itu.

"Air membawa kayu itu kencangnya seperti pelor peluru," kenang pria 53 tahun tersebut beberapa waktu lalu.
 

Baca juga: Satgas Gulbencal TNI perbaiki sekolah pulihkan pendidikan pascabencana

 

Pandangan pria paruh baya ini kosong menatap kampung halaman porak poranda nyaris tanpa kehidupan. Jembatan permanen yang menjadi urat nadi 15 desa di Kecamatan Sekerak dan Bandar Pusaka itu akhirnya menyerah, ambruk ditelan arus. Seketika, warga terlempar kembali ke dekade 90-an: terisolasi dan bergantung pada getek/boat.

Selama berbulan-bulan, warga harus merogoh kocek hingga Rp50 ribu untuk sekali pulang-pergi menggunakan perahu mesin. Bagi Upik, ibu rumah tangga asal Aras Sembilan, biaya itu adalah beban yang mencekik di tengah duka rumahnya yang hanyut diterjang banjir. Kini, beban itu sedikit terangkat setelah TNI membangun jembatan perintis.

Namun, harapan warga tak berhenti di jembatan gantung yang bergoyang saat diterpa angin ini. Upik, yang kini berjualan takjil di ujung jembatan sambil menunggu hunian sementara (huntara), masih menyimpan mimpi lama.

"Harapan kami, jembatan ini dibangun lebih besar lagi, yang permanen. Agar truk angkutan bisa melintas dan suasana kembali ramai seperti dulu," katanya lirih.

 

Kemanunggalan di Tengah Arus

Jembatan Gantung Perintis Garuda, begitu namanya, berdiri sepanjang 120 meter bentang sungai. Di balik konstruksi ramping selebar 1,2 meter itu, ada kolaborasi antara baret hijau Kodim 0117/Aceh Tamiang, Brigif 25/Siwah, dan relawan Vertical Rescue Indonesia (VRI).

Danrem 011/Lilawangsa, Kolonel Inf Ali Imran—seorang mantan prajurit Kopassus—tahu benar proyek ini dikejar waktu. Ia sempat menepis anggapan lambannya penanganan di pelosok. Strateginya jelas: amankan jalur utama agar logistik bisa masuk ke dalam.

"Jika jalur depan belum siap, bagaimana logistik pembangunan bisa bergerak?" ujarnya lugas.


Baca juga: TNI rehabilitasi sekolah terdampak bencana di Aceh Tamiang
 

Hasilnya, jembatan tersebut rampung sebelum fajar Ramadhan 1447 H menyapa. Meski hanya bisa dilalui kendaraan roda dua secara bergantian, jembatan ini telah memulihkan martabat ekonomi warga.

Komandan Kodim (Dandim) 0117/Aceh Tamiang Letkol Arm Raden Subhi Fitra Jaya memastikan sejumlah infrastruktur jembatan yang sempat lumpuh akibat banjir besar kini telah pulih. Dari belasan titik kerusakan, beberapa proyek strategis bahkan sudah rampung 100 persen dan siap digunakan masyarakat sebagai kado menjelang bulan suci Ramadhan.

Pengendara sepeda motor melintasi jembatan gantung perintis di Desa Lubuk Sidup, Kecamatan Sekerak dan Desa Aras Sembilan, Kecamatan Bandar Pusaka, Aceh Tamiang, Aceh, Rabu (25/2/2026). Jembatan dengan lebar 1,2 meter dan panjang 180 meter (total bentang seling 250 meter) hasil pembangunan TNI ini menjadi akses utama warga pedalaman pasca-putusnya infrastruktur akibat bencana, sekaligus memegang predikat sebagai jembatan gantung perintis terpanjang di Indonesia. (ANTARA/Dede Harison)

Dandim yang ditemui usai rapat pemulihan bencana bersama BNPB di Kantor Bupati Aceh Tamiang, Senin (2/3/2026) menjelaskan bahwa fokus utama pengerjaan terletak pada beberapa titik vital yang menghubungkan antar-kecamatan.

Berikut adalah rincian kondisi infrastruktur tersebut: Jembatan Gantung Perintis Lubuk Sidup: Menghubungkan Kecamatan Sekerak dan Kecamatan Bandar Pusaka. Pengerjaan telah rampung 100%.

Jembatan Gantung Bandar Mahligai: Memiliki bentang total sekitar 200 meter yang melintasi Sungai Tamiang. Saat ini progres mencapai 45%. Jembatan ini cukup menantang karena dibangun di lokasi yang sebelumnya terendam luap air hingga ketinggian 10 meter.

Jembatan Bailey Tanjung Genteng: Terletak di Kecamatan Kejuruan Muda dengan panjang 30 meter. Status selesai 100% dan tinggal menunggu peresmian.

Jembatan Gantung Desa Pangkalan: Berada di Kecamatan Kejuruan Muda. Jembatan besar ini sudah selesai 100% dan mampu dilalui kendaraan roda empat. Jembatan Gantung Tebing Tinggi – Alur Tani: Masih dalam proses perbaikan namun sudah mulai bisa dilintasi oleh warga.

Jembatan Armco (Gorong-gorong Baja): Dipasang di tiga titik untuk mengatasi akses yang terputus akibat gerusan air, yakni di Desa Suka Mulia, Kecamatan Rantau, Desa Tanah Terban, Kecamatan Karang Baru, dan Desa Blang Kandis, Kecamatan Bandar Pusaka.

 

Spesifikasi dan Keunggulan Teknis

Salah satu sorotan utama adalah penggunaan Jembatan Armco yang bermaterial baja berbentuk lingkaran penuh (gabungan dua setengah lingkaran).

"Ini berfungsi sebagai drainase besar sekaligus jembatan di bagian atasnya yang dilapisi tanah atau aspal. Kekuatannya mampu menahan beban lebih dari 5 ton, sehingga aman dilalui mobil," ujar Dandim.

Sementara itu, Jembatan Perintis Lubuk Sidup diklaim sebagai salah satu jembatan gantung terpanjang di Indonesia dengan bentang antar-gawang pondasi 180 meter (total kabel 240-250 meter). Secara teknis, proyek ini dikerjakan oleh personel TNI bersama tim Vertical Rescue Indonesia dengan dukungan dana dari Kemenko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Infrabangwil).

Deru mesin dan dentuman palu saling bersahutan di pedalaman Kecamatan Sekerak pada saat progres pembangunan jembatan perintis itu baru mencapai 50,5 persen. Di sana, sejumlah prajurit TNI AD dari Kodim setempat tengah berjibaku dengan baja dan tali seling. Mereka sedang "menjahit" kembali konektivitas warga yang sempat robek diterjang bencana.


Baca juga: Polres Aceh Tamiang selidiki informasi relawan diteror bangkai anjing

 

Meski sempat terkendala pengadaan material khusus seperti angkur dan kabel seling yang harus didatangkan dari luar Aceh (Medan dan Jakarta), pengerjaan justru selesai lebih cepat dari target.

"Kami diberi waktu tiga bulan, namun berkat kerja keras personel dan cuaca yang mendukung, dalam waktu 1,5 hingga 2 bulan sudah bisa difungsikan," ungkapnya.

Menjelang peresmian yang rencananya akan dihadiri oleh Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Maruli Simanjuntak atau Menko Infrabangwil Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) pada medio Maret ini, Pamen lulusan Akmil 2006 ini meminta masyarakat untuk menjaga aset tersebut. Mengingat statusnya sebagai jembatan perintis sebelum adanya jembatan permanen dari kementerian terkait, terdapat aturan pakai yang ketat.

"Masyarakat harus disiplin. Tidak boleh melintas bersamaan dari dua arah untuk menghindari penumpukan beban di tengah. Untuk saat ini, jembatan gantung hanya diperuntukkan bagi pejalan kaki, motor, dan becak," jelas Raden Subhi.

Ia menambahkan penuntasan jembatan ini diharapkan menjadi urat nadi ekonomi baru bagi warga Aceh Tamiang yang sebelumnya harus menyeberangi sungai secara manual pascabanjir.
 

Baca juga: Dobri Narod salurkan seragam sekolah untuk pelajar terdampak bencana

 

Secara terpisah, Wakil Ketua I DPRK Aceh Tamiang Syaiful Bahri mengapresiasi langkah cepat TNI dalam memulihkan konektivitas tersebut. Ia menekankan bahwa Jembatan Lubuk Sidup merupakan urat nadi bagi lebih dari 15 desa.

"Tanpa jembatan ini, masyarakat harus memutar melalui Sungai Liput atau Pulau Tiga dengan tambahan waktu tempuh hingga 2 jam. Ini berdampak signifikan pada distribusi ekonomi, akses kesehatan, dan pendidikan," tutur Syaiful saat ditemui, Selasa (3/3).

 

Dorongan Jembatan Permanen

Meski jembatan darurat telah berfungsi, pihak legislatif meminta Pemerintah Provinsi Aceh dan Pemerintah Pusat untuk segera mengalokasikan anggaran pembangunan jembatan permanen.

Sebagai informasi, jembatan permanen sebelumnya yang dibangun menggunakan Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) ambruk akibat luapan Sungai Tamiang mencapai lantai pada akhir November 2025. Hingga proyek permanen terealisasi, masyarakat diimbau untuk mematuhi kapasitas beban jembatan gantung guna menjaga ketahanan struktur bangunan.

Baca juga: Penyintas bencana di Aceh biayai pembersihan rumah hingga Rp6 juta

 

Harapan yang Belum Usai

Di ujung jembatan, Riyan, pemuda 20 tahun, berdiri siaga. Tangannya menggenggam handy talky (HT). Ia adalah satu dari sekian pemuda yang secara sukarela menjaga lalu lintas jembatan satu arah tersebut.

"Harus bergantian, dilarang berselisihan di atas," tutur Riyan.

Ia berkomunikasi dengan rekannya di ujung Desa Lubuk Sidup demi mencegah kecelakaan. Tak ada gaji tetap bagi Riyan. Ia hanya mengandalkan uang receh dari pelintas untuk sekadar membeli rokok. Namun, baginya, memastikan ribuan motor melintas dengan aman adalah kepuasan tersendiri.

Kini, warga punya pilihan. Mereka bisa melintas gratis di atas jembatan gantung, atau menggunakan jasa boat penyeberangan yang tarifnya kini terjun bebas hingga Rp5.000 per orang sejak jembatan itu berdiri.

 

Riyan (20) menggunakan perangkat handy talky (HT) saat mengatur lalu lintas kendaraan di jembatan gantung Desa Aras Sembilan-Lubuk Sidup, Aceh Tamiang pada Rabu (25/2/2026). Sejumlah pemuda setempat secara sukarela berjaga di ujung jembatan untuk memastikan pengendara sepeda motor melintas secara bergantian karena kondisi jembatan yang sempit dan hanya bisa dilalui satu arah. (ANTARA/Dede Harison)

 

Bagi Ibrahim, Datok Penghulu (Kepala Desa) Lubuk Sidup, jembatan ini adalah nyawa. Meski kebun-kebun warga masih banyak yang terbengkalai karena tergerus banjir, keberadaan jembatan setidaknya menyambung harapan yang sempat putus.

Untuk saat ini, jembatan gantung selebar satu meter itu sudah lebih dari cukup untuk memastikan anak-anak sekolah tak lagi bertaruh nyawa di atas rakit/sampan, dan doa-doa di bulan Ramadhan bisa dipanjatkan tanpa rasa waswas akan isolasi. Kehadiran TNI benar-benar menjadi "malaikat pelindung" bagi warga yang hampir putus asa.

"Kami bersyukur, TNI hadir saat kami merasa dilupakan," ujar Ibrahim.

Baginya, jembatan ini adalah mukjizat menjelang Ramadhan 1447 H. Tanpa campur tangan cepat TNI, mustahil warga bisa menjalankan ibadah puasa dan merayakan Lebaran dengan tenang.

Kini, suara deru sepeda motor di atas lantai papan jembatan gantung menjadi musik indah yang menggantikan suara gemuruh banjir bandang tahun lalu. TNI AD tidak hanya membangun jembatan; mereka membangun kembali martabat dan harapan warga Aceh Tamiang yang sempat hanyut dibawa arus.

Satu komando, satu tujuan. Rakyat tak boleh lagi terisolasi!

 



Editor : Febrianto Budi Anggoro

COPYRIGHT © ANTARA 2026