Banda Aceh (ANTARA) - Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah alias Dek Fadh berharap ulama Aceh dapat terus membimbing umat di tengah perubahan zaman, serta menjadi penjaga nilai-nilai syariat Islam dan penuntun moral masyarakat di tanah rencong.
“Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, masyarakat tidak hanya membutuhkan regulasi, tetapi juga keteladanan dan bimbingan. Di sinilah peran ulama menjadi sangat krusial sebagai penyejuk dan pemersatu,” kata Fadhlullah, di Aceh Besar, Selasa.
Pernyataan itu disampaikan Fadhlullah saat membuka Rapat Koordinasi Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) se-Aceh 2026, di kantor MPU Aceh, di Aceh Besar.
Fadhlullah meminta, rapat koordinasi ulama ini bukan hanya sekedar agenda rutin, melainkan menjadi ruang strategis untuk memperkuat sinergi dan merumuskan arah kebijakan keumatan yang lebih terarah dan berdampak.
MPU, kata dia, memiliki kedudukan penting dalam sistem pemerintahan Aceh. Tidak hanya sebagai lembaga pemberi pertimbangan, melainkan juga sebagai penjaga nilai-nilai syariat Islam dan penuntun moral masyarakat.
"Kekhususan Aceh, bukan sekedar status administratif, melainkan amanah yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari," ujarnya.
Dirinya berharap, forum tersebut juga dapat menjadi momentum memperkuat konsolidasi kelembagaan MPU, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Sehingga, setiap kebijakan dan rekomendasi yang dihasilkan benar-benar selaras dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Fadhlullah menegaskan, sinergi antara ulama dan umara (pemimpin) menjadi kunci penting dalam memastikan setiap kebijakan dapat dipahami dan diterima dengan baik oleh masyarakat.
Pemerintah Aceh, lanjut dia, memandang MPU sebagai mitra strategis dalam mewujudkan pembangunan yang berlandaskan nilai-nilai syariat Islam.
"Kita berharap rakor ini dapat melahirkan gagasan dan langkah konkret dalam menjawab berbagai tantangan keumatan ke depan," demikian Fadhlullah.
Pewarta: Rahmat FajriEditor : M Ifdhal
COPYRIGHT © ANTARA 2026