Banda Aceh (ANTARA) - Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh menjadi satu-satunya Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di Indonesia yang terpilih mengikuti KRISAN Fellowship 2026.
“KRISAN Fellowship 2026 merupakan program pengembangan kepemimpinan dan penguatan kapasitas institusi untuk mendukung pengembangan serta tata kelola Unit Layanan Disabilitas (ULD) di berbagai perguruan tinggi di Indonesia,” kata Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof Dr Mujiburrahman di Banda Aceh, Kamis.
Ia menjelaskan keikutsertaan UIN Ar-Raniry dalam program tersebut menjadi kesempatan untuk memperkuat komitmen kampus dalam membangun pendidikan yang setara dan inklusif.
“Pendidikan tidak boleh hanya berbicara tentang siapa yang mampu mengaksesnya. Pendidikan juga harus memastikan bahwa setiap orang yang telah berada di dalamnya dapat belajar, tumbuh, dan berkembang tanpa terhalang oleh hambatan yang sebenarnya dapat kita hilangkan,” kata Mujiburrahman.
Menurut dia, keberpihakan terhadap pendidikan inklusif bukan semata-mata persoalan penyediaan fasilitas, melainkan bagian dari tanggung jawab perguruan tinggi dalam memastikan setiap warga negara memperoleh hak pendidikan secara setara.
Baca: UIN Ar-Raniry gandeng Dinsos Aceh edukasi perlindungan anak
“Ketika sebuah kampus membangun lingkungan yang inklusif, sesungguhnya kampus itu sedang membangun peradaban yang lebih manusiawi. Ukuran kemajuan pendidikan bukan hanya seberapa tinggi ilmu yang dihasilkan, melainkan seberapa luas kesempatan yang dibuka,” ujarnya.
Mujiburrahman berharap pengalaman yang diperoleh melalui KRISAN Fellowship dapat diterjemahkan ke dalam kebijakan dan praktik kelembagaan di UIN Ar-Raniry.
“Belajar ke Jepang bukan tujuan akhir. Tujuan akhirnya adalah membawa pulang pengetahuan, pengalaman, dan praktik baik untuk kemudian kita adaptasi sesuai dengan kebutuhan UIN Ar-Raniry,” kata dia.
Sebelum mengikuti Fellowship to Japan, peserta menjalani rangkaian pembekalan melalui Online Executive Workshop pada 7-16 Juli 2026. Dalam lokakarya tersebut, peserta mengikuti pembelajaran bersama trainer dari Indonesia dan Jepang mengenai konsep inclusive higher education dan social model of disability.
UIN Ar-Raniry terpilih sebagai salah satu dari lima perguruan tinggi di Indonesia yang mengikuti program tersebut setelah melalui proses seleksi terhadap lebih dari 100 perguruan tinggi.
Dua perwakilan UIN Ar-Raniry yang mengikuti program itu adalah Ketua Unit Layanan Disabilitas (ULD) Harri Santoso SPsi MEd dan Koordinator Pusat Studi Gender dan Anak LP2M UIN Ar-Raniry, Dr Nashriyah MA.
Baca: UIN Ar-Raniry perkuat SDM dukung kemajuan sektor pariwisata Sabang
Pewarta: M IfdhalEditor : M.Haris Setiady Agus
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.