"Banjir di awal Januari 2018 ini memang sudah berangsur surut. Namun, yang perlu diwaspadai adalah bencana sosial pascabanjir akibat terpuruknya ekonomi masyarakat karena lahan usaha pertanian mereka hancur," kata Ketua Forum PRB Aceh Nasir Nurdin di Banda Aceh, Senin.
Sebelumnya, kata dia, sejumlah daerah di Aceh di antaranya Kabupaten Aceh Utara mengalami bencana banjir. Bencana tersebut telah menimbulkan kerugian yang cukup besar bagi masyarakat.
Kerugian tersebut baik harta benda, tempat tinggal maupun lahan usaha. Akibatnya, aktivitas ekonomi masyarakat menjadi tersendat, sehingga mereka rawan terhadap bencana sosial.
Data dihimpun Forum PRB Aceh, lokasi banjir di Aceh Utara meliputi Kecamatan Pirak Timu, Matangkuli, dan Tanah Luas. Ini disebabkan meluapnya sejumlah sungai, di antaranya Krueng (sungai) Keureuto, Krueng Inong, dan Krueng Pirak.
Nasir Nurdin menyebutkan, banjir di Aceh Utara awal Januari 2018 memang sudah berangsur surut. Namun, perlu upaya antisipasi agar banjir tersebut tidak terulang.
Menurut Nasir Nurdin, proyek bendungan raksasa yang sedang dibangun menjadi solusi jangka panjang untuk mengantisipasi banjir di Aceh Utara. Namun solusi jangka pendek dan menengah harus segera dipikirkan oleh pemerintah.
Seperti memberikan bantuan langsung kepada petani agar keterpurukan ekonomi akibat hancurnya lahan pertanian dan lainnya. Upaya ini bagian antisipasi bencana sosial.
Sebab, dampak bencana sosial tersebut tentu lebih parah dari bencana banjirnya itu sendiri. Belum lebih serangan penyakit kulit dan kesulitan air bersih.
Hampir seluruh sumur di zona bencana tercemar limbah yang dibawa banjir. Dan ini juga harus ada solusi cepat, sehingga masyarakat merasakan kehadiran pemerintah pascabanjir.
"Banjir di Aceh Utaranya ini kejadian kedua kalinya dalam waktu tidak sampai dua bulan. Jadi harus ada perhatian secepatnya dari pemerintah terhadap masyarakat, sehingga mereka tidak terus menerus mengalami bencana," pungkas Nasir Nurdin.
Pewarta: Haris SAEditor : Heru Dwi Suryatmojo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.