Keuchik (Kepala desa) Ue Baro, Kecamatan Cot Girek, Abdullah TA di Lhoksukon, Rabu mengharapkan, agar pemerintah membantu pompa air tersebut, sehingga petani tidak kesulitan air saat turun ke sawah.
"Proposal sudah kita ajukan ke Dinas Pengairan Provinsi Aceh pada tahun 2017. Selain pompa, kita juga mengusulkan pipa dan bak penampungan, karena jarak Sungai Peuto dan sawah sekitar 1.300 meter. Kami harapkan Pemerintah Aceh mengabulkan permintaan petani," pintanya.
Jika pemerintah mengabulkan permintaan tersebut, kata Abdullah, maka pompa air ini akan dipergunakan memompa air dari Sungai Peuto ke sawah para petani yang ada di Kemukiman Alue Rampah.
Kemukiman Alue Rampah terdapat lebih dari 300 hektare sawah tadah hujan, tersebar di Desa Cempeudak, Alue Drien, Seunubok Baro, Geulumpang dan Ue Baro.
Sebelumnya, hampir seluruh desa itu pernah menggunakan pompa air di masing-masing aliran Sungai Peuto untuk mengairi air ke sawah mereka, tetapi hasilnya tidak maksimal. Sekarang rata-rata pompa air tersebut sudah rusak dan petani hanya mengandalkan air hujan.
Dikatakan, ratusan hektare sawah daerah itu berada di dataran lebih tinggi bila dibandingkan permukaan air Sungai Peuto, sehingga debit air dihasilkan dari pompa yang mereka gunakan sebelumnya tentu lebih kecil, kerena rendahnya daya serap mesin.
"Petugas pengairan (kini disatukan dalam Dinas PUPR) Aceh Utara pernah mensurvei untuk membuat jaringan irigasi, dan mereka menyebut bahwa sawah kami lebih tinggi dari pada permukaan air sungai, sehingga jaringan irigasi tersebut dibatalkan," jelasnya.
Karena kesulitan mendapatkan air, maka petani Kemukiman Alue Rampah rata-rata hanya setahun sekali turun ke sawah, dan kerap memanen dengan hasil tidak memuaskan. Tidak sedikit pula petani daerah itu hanya balik modal.
Demi menggenjot hasil pertanian di daerah tersebut, tambah Abdullah dibenarkan Ketua Kelompok Tani Tgk Bate Puteh dari Desa Seunubok Baro, Jhon Junaidi, maka pihaknya berharap pemerintah mengabulkan permintaan petani.
Disebutkan, bila pemerintah menyediakan pompa tersebut maka pihaknya meyakini air untuk seluruh sawah Desa Cempeudak, Alue Drien, Seunubok Baro, Geulumpang dan Ue Baro, akan tercukupi.
"Jika kita menunggu jaringan irigasi, maka butuh waktu lama. Bilapun dibangun, tentu menghabiskan anggaran besar bila dibandingkan dengan hanya membantu pompa air tersebut," kata mereka pula.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PU-PR) Kabupaten Aceh Utara, Edi Anwar, yang juga membidangi bagian irigasi dihubungi terpisah menyatakan, baru-baru ini petugas Pengairan Provinsi Aceh sudah turun ke kawasan Kecamatan Cot Girek dalam urusan air untuk sawah petani.
Meski demikian, kata Edi Anwar, pihaknya belum mendapatkan konfirmasi lanjutan terkait hasil survei mereka, apakah akan dibangun jaringan irigasi atau punya alternatif lain untuk mengairi air ke sawah tadah hujan di daerah itu.
"Menurut saya, akan lebih tepat bila dibangun embung untuk sawah yang ada di Kecamatan Cot Girek," sebut Edi Anwar.
Embung adalah sebuah cekungan (basin retention) untuk menampung air hujan di musim penghujan, lalu air tampungan itu bisa digunakan mengairi ke sawah jika pada musim kemarau.
Pewarta: ZubirEditor : Heru Dwi Suryatmojo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.