Calang, Aceh (ANTARA) - Keturunan Raja Lamno (Raja Daya) kembali menggelar acara "Peumenap dan Seumeuleung" di Astaka Diraja Komplek Makam Sultan Alaiddin Riayatsyah atau lebih dikenal dengan Poe Teumeurehom, di Gampong Gle Jong, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya, Selasa (13/8).

Selain dihadiri oleh para keturunan raja-raja dalam wilayah Aceh Darussalam yang  menjadi tamu kehormatan kegiatan tersebut juga dihadiri oleh Perwakilan Gubernur Aceh, Perwakilan Wali Naggroe, Bupati Aceh Jaya T Irfan TB beserta Wakil Tgk Yusri S, Sekda Aceh Jaya Mustafa, mantan Bupati Aceh Jaya Azhar Abdurrahman serta sejumlah para kepala SKPK dalam Kabupaten Aceh Jaya.

Di antara raja-raja yang hadir pada acara Peumeunap dan Seumeuleueng adalah Pewaris Radja Tamiang, Radja Pereulak, Radja Samudra Pasai, Radja Pedir, Sagie 26 mukim, Radja Lingge, Radja Zuriat Alaidin Mahmud Syah, Radja dari Tanah Nata Kuala Batu, dari Radja Bakongan Aceh Selatan.

Pemenap adalah bahasa Aceh yang berasal dari kata peunap. Artinya menunggu. Jadi, pemenap adalah menunggu raja makan. Sedangkan Seumeulueng berasal dari kata suleueng atau suap yang artinya menyuapi.

Prosesi acara, diawali dengan masuknya raja ke Astaka Diraja sembari menyapa raja-raja dari berbagai wilayah kekuasaannya. Raja lantas duduk di atas tilam emas bersulam kapas. Dayang yang berada di depan raja kemudian membasuh tangan raja serta tamu Agung Raja Daya.

Lantas, dayang membuka hidangan dan mempersilakan raja untuk makan. Tapi raja diam saja. Beliau mengabaikan atau peunap, dalam artian menunggu disuapi oleh dayang. Prosesi dilanjutkan dengan dayang yang kemudian menyuapkan nasi ke mulut raja. Hal itu disebut seumeuleueng.

Awal terbentuk Kerajaan Daya adalah saat Poe Temereuhom diutus untuk Sultan Aceh untuk mengatasi kemelut yang dihadapi empat kerajaan kecil di negeri Daya. Keempat kerajaan kecil itu adalah Kerajaan Keuluang, Lamno, Kuala Unga dan Kuala Daya.

Saat Sultan Alaiddin Riayatsyah tiba, beliau mengumpulkan keempat raja dan mendeklarasikan berdirinya Kerajaan Daya pada hari pertama Idul Adha.

Poe Teumereuhom, julukan sang sultan dikenal juga sebagai pelahir adat di bumi Aceh. Tak heran jika kemudian jika ada sebuah nazam: Adat bak Poe Teumeureuhom, Hukom Bak Syiah Kuala, Qanun Bak Putro Phang, Reusam bak Laksamana.

Bupati Aceh Jaya T Irfan Tb menyebutkan proses Peumeunap dan Seumeuleueng merupakan acara adat yang telah dilakukan secara turun-temurun.

"Ini adalah bentuk pelestarian budaya dalam rangka memperingati lahirnya Kerajaan Daya," ujarnya.

Ia menceritakan bahwa proses Peumenap dan Seumeuleung dilakukan pertama kali di saat Kerajaan Nanggroe Daya dideklarasi pada 10 Zulhijjah atau pada hari raya pertama Idul Adha.

Kerajaan ini  juga diketahui punya relasi yang luas, atau telah membangun hubungan bilateral dengan berbagai negara sehingga saat dideklarasi banyak perwakilan negara yang hadir seperti dari Amerika Serikat, Inggris dan Portugis.

"Melalui acara ini kita mengharapkan bisa memberi motivasi bagi masyarakat Aceh khususnya Aceh Jaya dalam mempertahankan adat dan budaya kita, kegiatan ini harus tetap dilaksanakan sebagai upaya penyampaian sejarah kepada anak dan cucu kita agar mereka tau Aceh Jaya memiliki nilai historis yang luas biasa maha dahsyat," ujar Irfan Tb.

Sementara itu, Saifullah, Keturunan Raja Daya menyampaikan bahwa Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai bentuk mengenang kembali proses adat yang pernah dilakukan oleh Raja Daya dalam menjamu tamu kehormatan serta Raja-Raja dari kerajaan lainnya.

"Tujuan dari kegiatan ini kita laksanakan untuk mengenang sejarah Sultan Alaiddin Riayatsyah, kagiatan seperti ini sudah dilaksanakan sejak 1400 Masehi hingga hari ini tidak berubah," tuturnya.

Ia menambahkan bahwa kegiatan tersebut dilaksankan setiap 1 tahun sekali yang bertepatan pada hari raya Idul Adha dan juga kegiatan ini sebagai bentuk mempererat jalinan silahturrahmi sesama masyarakat di dalam kawasan Kerajaan Daya ( Lamno Daya).

"Kegiatan ini dilaksanakan agar kazanah adat kerajaan tidak terlupakan oleh generasi Aceh selanjutnya dan ini layak dan pantas dilestarikan," ungkap Saiful.

Pewarta: Arif Hidayat
Editor : Heru Dwi Suryatmojo

COPYRIGHT © ANTARA 2026