Tujuh koperasi yang bergerak di bidang ekspor kopi gayo menyalurkan sumbangan sebesar Rp145 juta untuk penanganan COVID-19 di Kabupaten Bener Meriah, Aceh.

Sumbangan tersebut langsung diserahkan oleh pihak perwakilan ketujuh koperasi kepada Bupati Bener Meriah Tgk Sarkawi, Kamis.

Perwakilan koperasi Djumhur mengatakan sumbangan tersebut merupakan bentuk rasa kepedulian dari kalangan eksportir kopi gayo terhadap masyarakat yang terkena dampak pandemi global COVID-19 yang telah memukul banyak sektor hingga melumpuhkan ekonomi masyarakat.

Baca juga: Bupati Sarkawi sumbangkan seluruh gaji selama penanganan COVID-19

"Sumber dana bantuan diambil dari premiun fairtrade koperasi," kata Djumhur usai penyerahan sumbangan di Aula Setdakab Bener Meriah.

Baca juga: Tak punya KTP Bener Meriah atau Aceh Tengah dilarang masuk di perbatasan

Djumhur menyebut ketujuh koperasi yang menyalurkan bantuan tersebut masing-masing adalah :

1. Koperasi Permata Gayo (KPG).
2. Koperasi Koperasi Kopi Wanita Gayo (KOKOWA GAYO).
3. Koperasi Mutiara Gayo (MG)
4. Koperasi Baburrayan (KBQB).
5. Koperasi KSU Gayo Antara (KGA).
6. Koperasi Gayo Nusantar (KGN).
7. Koperasi Buana Mandiri (KBM).

Djumhur sendiri selaku pengurus Koperasi Permata Gayo menyebut bahwa dampak dari pandemi global COVID-19 telah menyebabkan ekspor kopi gayo saat ini terhenti.

Menurutnya para buyer atau pembeli luar negeri lebih memilih menunda pembelian walau sudah ada kontrak dengan eksportir lokal.

"Sehingga kopi tidak dapat dikirim," sebut Djumhur.

Hal senada juga disampaikan oleh pengurus Koperasi Baburrayan sekaligus Ketua Asosiasi Produser Fairtrade Indonesia (APFI) Armiadi.

Dia menjelaskan kondisi pasar ekspor kopi saat ini harus menelan pil pahit sampai batas waktu yang belum diketahui.

"Terakhir pengiriman itu di bulan Maret bagi yang sudah kontrak. Sekarang pending atau direschedule sampai bulan Juni 2020. Itu pun kalau di bulan Juni nanti kondisi sudah normal. Kalau tidak kemungkinan akan panjang," ujarnya.

Namun dalam hal ini Armiadi memastikan pembelian kopi hasil panen di tingkat petani lokal masih akan tetap berjalan walau sedikit melambat.

"Untuk pembelian kopi dari petani memang melambat, tapi masih ada yang menampung," tuturnya.

Selain itu Armiadi menyebut bahwa pandemi COVID-19 saat ini juga telah menyebabkan harga jual kopi gayo anjlok.

Menurutnya hal itu terjadi karena tren minum kopi di banyak negara di belahan dunia saat ini telah menurun drastis akibat kedai-kedai kopi atau coffe shop harus berhenti beroperasi karena adanya penerapan physical distancing untuk memutus mata rantai penyebaran COVID-19.

"Sekarang kopi menumpuk. Ketika nanti kondisi membaik, maka semua barang akan dilepas bersamaan. Tentu ini juga akan membuat harga turun, karena barang banyak," ujarnya.


 

Pewarta: Kurnia Muhadi

Editor : Heru Dwi Suryatmojo


COPYRIGHT © ANTARA News Aceh 2020