Banda Aceh, 1/9 (Antaraaceh) - Para pemandu wisata di Aceh diharapkan mampu juga berbahasa mandarin menyusul mulai meningkatnya kunjungan wisatawan termasuk dari wilayah China ke provinsi ini, kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwata Aceh Reza Pahlevi.

"Seiring membaiknya ekonomi global, maka berwisata pun menjadi tren global. Pergeseran perkembangan ekonomi di wilayah China juga harus di baca dengan baik, karenanya pemandu juga harus mampu kuasai bahasa mandarin, katanya di Banda Aceh, Senin.

Dalam beberapa tahun terakhir, ia menjelaskan arus kunjungan wisatawan baik mancanegara maupun nusantara ke sejumlah daerah di Aceh terus meningkat, termasuk para pelancong dari wilayah China dengan tujuan seperti Kota Sabang dan Kota Banda Aceh.

Pembangunan sektor pariwisata Aceh, menurutnya memang sudah banyak perkembangan namun masih perlu dilakukan pembenahan untuk menjadikan Aceh sebagai salah satu destinasi wisata unggulan dunia.

"Khususnya Sabang, gubernur menargetkan bisa dikunjungi 1 juta wisman pada 2017. Itu adalah tugas berat, pembenahan harus terus dilakukan, baik meningkatkan sumberdaya manusia serta membenahi infrastruktur dan prasarana objek-objek wisata di Sabang," katanya menjelaskan.

Reza menambahkan,  berdasarkan data disebutkan kunjungan wisatawan ke Aceh 1,2 juta orang. Namun dari jumlah tersebut kunjungan wisman baru mencapai 40 ribu orang.

Ia menjelaskan, dari data kunjungan wisatawan baik mancanegara maupun nusantara itu sebagian besar adalah ke Kota Sabang, selain Kota Banda Aceh dan Aceh Besar.

"Kami terus berupaya meningkatkan infrastruktur di wilayah itu, khususnya Sabang karena memang Pulau Weh tersebut menjadi tujuan utama kunjungan wisatawan saat ini ke Aceh, namun juga tidak mengenyampingkan daerah lain," kata dia menambahkan.

Pewarta : Azhari


Editor : Salahuddin Wahid

COPYRIGHT © ANTARA 2026