Banda Aceh (ANTARA) - Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh mengusulkan permohonan bantuan pendidikan kepada Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf untuk 3.531 mahasiswa terdampak banjir dan longsor Aceh, terutama mereka yang terancam putus kuliah akibat bencana tersebut.

"Berdasarkan pendataan internal kampus, sebanyak 3.531 mahasiswa tercatat berasal dari keluarga terdampak bencana hidrometeorologi," kata Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof Mujiburrahman dalam keterangannya, di Banda Aceh, Rabu.

Permohonan bantuan untuk mahasiswa terdampak banjir tersebut telah disampaikan langsung oleh Prof Mujiburrahman kepada Mensos  Saifullah Yusuf atau Gus Ipul dalam pertemuan yang berlangsung di Jakarta.

Prof Mujiburrahman mengatakan, sebagian orang tua mahasiswa kehilangan mata pencaharian, sementara lainnya masih berada di pengungsian, sehingga mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar pendidikan anaknya.

“Dalam kondisi seperti ini, mahasiswa tidak mungkin dibebani kewajiban membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT). Tanpa dukungan, mereka berpotensi menghentikan studi,” ujarnya.

Menurutnya, dampak bencana tidak berhenti pada fase tanggap darurat. Memasuki tahap rehabilitasi dan rekonstruksi, beban ekonomi keluarga mahasiswa justru semakin berat, sementara perkuliahan semester genap tahun akademik 2025/2026 tetap berjalan dengan kewajiban akademik dan finansial.

UIN Ar-Raniry, sebelumnya juga telah menyalurkan bantuan awal berupa biaya hidup sebesar Rp200.000 per mahasiswa melalui Islamic Trust Fund (ITF). "Bantuan tersebut bersifat sementara untuk memenuhi kebutuhan paling mendesak pascabencana," katanya.

Maka dari itu, lanjut Rektor, dalam rangka menjamin keberlanjutan studi mahasiswa terdampak, UIN Ar-Raniry mengajukan proposal bantuan untuk pembiayaan UKT, sewa tempat tinggal, biaya hidup, serta kebutuhan dasar penunjang perkuliahan.

Selain ke Kementerian Sosial, proposal serupa juga diajukan kepada Kementerian Agama (Kemenag), Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), serta Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).

Prof Mujiburrahman menilai, keberlanjutan pendidikan tinggi merupakan bagian penting dari pemulihan pascabencana. Karena, risiko putus kuliah massal akan berdampak jangka panjang bagi pembangunan sumber daya manusia di Aceh.

“Mahasiswa adalah investasi masa depan. Jika mereka berhenti kuliah karena bencana, dampaknya akan dirasakan bertahun-tahun ke depan,” ujarnya.

"UIN Ar-Raniry berharap pemerintah melalui kementerian dan lembaga terkait dapat segera merespon usulan tersebut agar mahasiswa terdampak banjir tetap memperoleh hak atas pendidikan tinggi," demikian Prof Mujiburrahman.


Baca juga: Menwa UIN Ar-Raniry bersihkan rumah ibadah di Aceh Tamiang



Pewarta: Rahmat Fajri
Editor : Febrianto Budi Anggoro
COPYRIGHT © ANTARA 2026