Nilai yang mendekati 100 persen menunjukkan energi yang disimpan dalam baterai dapat dilepaskan kembali dengan kehilangan yang sangat kecil," katanya.
Menurutnya, pendekatan green synthesis membuka peluang pengembangan teknologi baterai yang lebih berkelanjutan.
“Material yang kami kembangkan menunjukkan bahwa teknologi baterai berkapasitas tinggi dapat diproduksi melalui pendekatan yang lebih ramah lingkungan,” kata Mujahid.
Dalam kesempatan ini, Rektor UIN Ar-Raniry, Prof Dr Mujiburrahman mengapresiasi capaian tim peneliti UIN Ar-Raniry Banda Aceh, hasil riset tersebut menunjukkan kontribusi perguruan tinggi dalam pengembangan teknologi masa depan.
“Kami mengapresiasi capaian para peneliti UIN Ar-Raniry yang mampu menghasilkan inovasi di bidang teknologi material baterai,” katanya.
Baca: Lima peneliti empat negara hadiri seminar ICChEAS 2024
Ia menilai, dukungan program MORA The AIR Fund menunjukkan sinergi antara kebijakan pemerintah dan riset perguruan tinggi dalam menghasilkan inovasi strategis bagi bangsa.
"Pengembangan material baterai ramah lingkungan menjadi fokus riset global, terutama untuk mendukung teknologi kendaraan listrik, sistem penyimpanan energi terbarukan, serta transisi menuju ekonomi hijau," demikian Prof Mujiburrahman.
Sebagai informasi, kedepannya, tim peneliti berencana melanjutkan riset pada tahap optimasi material, pengujian performa jangka panjang, serta pengembangan skala produksi agar teknologi tersebut dapat mendukung industri baterai nasional.
Pada Program Riset Indonesia Bangkit 2026, UIN Ar-Raniry meloloskan dua tim peneliti. Tim yang dipimpin Inayatillah memperoleh pendanaan Rp350 juta untuk dua tahun, sedangkan tim yang dipimpin Zya Dyena Meutia mendapat Rp500 juta untuk periode yang sama.
Sebelumnya, pada 2025, tim peneliti yang diketuai Mujahid juga memperoleh pendanaan riset sebesar Rp5 miliar selama tiga tahun.
Pewarta: Rahmat FajriEditor : M.Haris Setiady Agus
COPYRIGHT © ANTARA 2026