Banda Aceh (ANTARA) - Peneliti Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh mengembangkan material baterai ramah lingkungan berbasis tumbuhan yang berpotensi meningkatkan kinerja baterai lithium-ion.
"Inovasi ini untuk mendukung pengembangan teknologi energi masa depan sekaligus memperkuat upaya kemandirian energi nasional," kata Ketua tim peneliti Dr Abd Mujahid Hamdan dari Fakultas Sains dan Teknologi UIN Ar-Raniry, di Banda Aceh, Selasa.
Penelitian tersebut melibatkan Dr Abd Mujahid Hamdan, Muslem, Syafrina Sari Lubis, dan Sri Nengsih dari UIN Ar-Raniry, serta Akhyar Ibrahim dari Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh.
Riset ini juga melibatkan kolaborasi dengan sejumlah lembaga riset nasional, antara lain Institut Teknologi Bandung, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta fasilitas penelitian di Universitas Negeri Surakarta melalui Pusat Unggulan Iptek.
Untuk pendanaannya, melalui program MORA The AIR Fund, skema pendanaan riset hasil kerja sama Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (Puspenma) Kementerian Agama dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Baca: Enam akademisi USK masuk peneliti berpengaruh dunia
Mujahid mengatakan, tim ini mengembangkan material komposit nikel oksida (NiO) dan grafit yang disintesis melalui metode green synthesis.
Metode ini memanfaatkan ekstrak tumbuhan sebagai agen reduksi dan stabilisasi pembentukan nanopartikel, sehingga lebih ramah lingkungan dibandingkan sintesis kimia konvensional yang menggunakan bahan kimia berbahaya.
Material komposit tersebut digunakan sebagai anoda baterai lithium-ion, yakni komponen yang berfungsi menyimpan ion lithium saat proses pengisian energi.
"Pada baterai lithium-ion konvensional, anoda umumnya menggunakan grafit karena stabil dan memiliki kemampuan penyimpanan ion lithium yang baik," ujarnya.
Berdasarkan hasil penelitiannya, kata dia, telah menunjukkan material yang dikembangkan memiliki kapasitas penyimpanan energi sekitar 22,73 persen lebih tinggi dibandingkan grafit komersial, serta efisiensi coulombic yang mencapai sekitar 99 persen.
Efisiensi coulombic merupakan indikator penting dalam teknologi baterai yang menggambarkan besarnya energi yang dapat digunakan kembali setelah proses pengisian.
Pewarta: Rahmat FajriEditor : M.Haris Setiady Agus
COPYRIGHT © ANTARA 2026