Banda Aceh (ANTARA) - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Tamiang memperkuat gerakan bersama penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS) dengan berkolaborasi lintas sektor dalam Program Relawan Pendidikan Tahun 2026.
“Program ini tidak sekadar fokus pada pendataan, tetapi menjadi upaya bersama untuk kembali menjangkau anak-anak putus dari layanan pendidikan dan memastikan mereka tetap memiliki harapan untuk belajar dan melanjutkan masa depan,” kata Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Tamiang, Sepriyanto saat dihubungi dari Banda Aceh, Kamis.
Ia menjelaskan Program Relawan Pendidikan dengan dengan keterlibatan pemerintah daerah, organisasi masyarakat, relawan pendidikan, hingga pendamping desa menghadirkan pendekatan yang lebih dekat, humanis, dan berbasis kepedulian masyarakat.
“Para relawan akan turun langsung ke lingkungan warga untuk membantu proses penjangkauan, verifikasi, pendampingan, hingga menghubungkan anak-anak dengan layanan pendidikan yang sesuai dengan kondisi mereka. Pelepasan yang kita lakukan ini juga bentuk dukungan pemerintah daerah terhadap penguatan gerakan kolaboratif penanganan ATS,” katanya.
Baca: Guru SMK di Aceh Tamiang terpilih program mengajar di Korea Selatan
Sepriyanto juga menyampaikan apresiasi terhadap Program Relawan Pendidikan yang diinisiasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Direktorat PNFI yang dinilai menjadi momentum penting bagi daerah untuk mulai bergerak memperkuat pendataan dan pemadanan data ATS secara lebih kolaboratif.
Ia menegaskan bahwa penanganan ATS tidak dapat dilakukan sendiri oleh pemerintah, tetapi membutuhkan gerakan bersama seluruh unsur masyarakat agar anak-anak yang belum terjangkau pendidikan tidak terus tertinggal.
Perwakilan Direktorat Pendidikan Nonformal dan Pendidikan Informal (PNFI), Desi Elvera Dewi, menyampaikan bahwa semangat utama Program Relawan Pendidikan adalah memastikan tidak ada anak yang kehilangan kesempatan belajar hanya karena kondisi sosial, ekonomi, maupun situasi bencana yang mereka alami.
Menurutnya, dalam banyak kasus pascabencana, anak-anak tidak hanya kehilangan rumah atau anggota keluarga, tetapi juga kehilangan akses terhadap pendidikan sehingga berisiko menjadi Anak Tidak Sekolah.
Karena itu, Relawan Pendidikan hadir bukan hanya untuk mendata, tetapi untuk memastikan anak-anak tersebut tetap terhubung dengan harapan, layanan belajar, dan lingkungan yang peduli terhadap masa depan mereka.
Baca: Disdikbud Aceh Tamiang fokus bangun sekolah rusak akibat bencana
Pewarta: M IfdhalEditor : M.Haris Setiady Agus
COPYRIGHT © ANTARA 2026