Banda Aceh (ANTARA) - Pemerintah Aceh melalui Dinas Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk (Disnakermobduk) menyiapkan lima program upaya menekan angka pengangguran, salah satunya peningkatan daya saing SDM (kompetensi) dan perluasan akses pasar kerja.

"Langkah ini diambil sebagai respons atas tantangan ketenagakerjaan terkini, termasuk pemulihan sektor riil pascabencana hidrometeorologi dan investasi yang masih terbatas," kata Kepala Disnakermobduk Aceh, Akmil Husen, di Banda Aceh, Rabu.

Sebagai informasi, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka pengangguran di Aceh pada 2026 ini mencapai 156.230 orang, atau meningkat 7.430 orang dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Disisi lain, berdasarkan data Disnakermobduk Aceh, jumlah masyarakat Aceh yang menerima pemutusan hak kerja (PHK) hingga Mei 2026 telah mencapai 100 orang.

Karena itu, dalam upaya menekan angka pengangguran tersebut, pemerintah Aceh beserta mitra strategisnya (Disnaker kabupaten/kota, UPTD BLK daerah, BPVP Banda Aceh, BP3MI Aceh dan lainnya menerapkan strategi yang berfokus pada 
peningkatan daya saing SDM serta perluasan akses pasar kerja, baik di 
dalam maupun luar negeri.

Akmil menyebutkan, adapun lima program yang dihadirkan pemerintah Aceh sebagai upaya menekan angka pengangguran yakni, pelatihan berbasis kompetensi (PBK) dan sertifikasi, program pemagangan baik dalam daerah maupun luar provinsi hingga luar negeri.

Kemudian, memfasilitasi pasar kerja global kepada masyarakat Aceh, (penempatan tenaga kerja ke luar negeri). Lalu, penguatan digitalisasi layanan ketenagakerjaan melalui aplikasi “siapkerja” dari Kementerian Ketenagakerjaan dan aplikasi “siskop2mi” dari Kementerian P2MI.

"Kelima, peningkatan perlindungan tenaga kerja dan produktivitas perusahaan melalui pengawasan penerapan norma ketenagakerjaan (Norma Kerja dan Norma K3) serta penguatan hubungan industrial di perusahaan untuk menekan jumlah tenaga kerja ter-PHK," tegasnya.

Selain itu, tambah Akmil, pemerintah Aceh juga melakukan program ketenagakerjaan yang disalurkan ke sekolah (khususnya SMK) dan kampus, seperti bursa kerja khusus (BKK) yang berfungsi menjadi pusat informasi pasar kerja, pemanduan bakat, pencatatan pencari kerja, serta penyaluran lulusan langsung ke perusahaan mitra.

Selanjutnya, juga revitalisasi pendidikan dan pelatihan vokasi, program magang hub dari Kemenaker bagi lulusan fresh graduate baik lulusan diploma maupun sarjana. 

"Lalu, kegiatan SMK go global yaitu program pemerintah Indonesia yang ditujukan untuk mempersiapkan lulusan sekolah menengah kejuruan agar mampu bersaing dan bekerja secara profesional di luar negeri," katanya.

Dalam kesempatan ini, Akmil menegaskan bahwa peluang kerja di Aceh sekarang tidak lagi bertumpu pada pencarian lowongan kerja konvensional yang "menanti bola."

Peluang terbesar terdapat pada hilirisasi potensi lokal, penguasaan keterampilan teknis/vokasional tersertifikasi, serta pemanfaatan jalur penempatan kerja luar wilayah (migran terampil).

"Keselarasan antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan riil pasar merupakan kunci utama untuk memenangkan persaingan di pasar kerja Aceh saat ini," demikian Akmil Husen.
 



Pewarta: Rahmat Fajri
Editor : M Ifdhal

COPYRIGHT © ANTARA 2026