Banda Aceh (ANTARA) - Dalam perbincangan mungkin Anda pernah dihadapkan pada sebuah pertanyaan: Pilih selamatkan harimau atau manusia?

Pertanyaan itu kerap muncul ketika modernisasi terus haus akan ekspansi ruang baru atas nama pembangunan. Akibatnya konflik antara manusia dan satwa liar kerap tak bisa dihindari, dan harimau kerap dicap sebagai teror yang mematikan.

Padahal orang-orang tua kita di sejumlah daerah di Indonesia pada zamannya percaya bahwa manusia dan harimau bisa hidup berdampingan. Orang Aceh menghormati harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) dengan sebutan Rimeung, yang ditulis penulis Belanda Henri Zentgraff dalam bukunya berjudul "Atjeh".

Dalam legenda di Sumatera Utara, harimau disebut Opung atau kakek dan babiat sitelpang, sehingga warga tidak boleh sembarangan membabat hutan tanpa minta izin kepadanya.

Orang Minangkabau menyebut harimau dengan nama Inyiak dan Datuak yang dianggap saudara, bahkan ketika harimau mati perlu dibungkus kain kafan sebagai bentuk adat penghormatan.

Baca juga: Hakim vonis terdakwa perdagangan kulit harimau satu tahun penjara

Secara sains peran harimau adalah spesies kunci atau predator puncak, yang mengendalikan populasi hewan tertentu guna membentuk pola struktur ekosistem asalnya. Harimau mengatur populasi rusa, babi hutan, dan herbivora besar lainnya.

Tanpa harimau, populasi hewan tersebut tidak terkendali, sehingga menghambat regenerasi pohon muda dan berdampak pada habitat yang tersedia bagi hewan lainnya. Ketika harimau punah dari suatu ekosistem, efeknya menyebar ke luar dengan cara yang disebut "kaskade trofik" oleh para ilmuwan, atau hilangnya rantai makanan yang menimbulkan efek domino terhadap perubahan bentang alam dari waktu ke waktu. 

Peringatan Global Tiger Day pada tahun ini mengusung tema internasional mengenai hidup berdampingan secara selaras antara manusia dan harimau. Kita perlu menyoroti kembali kearifan lokal masyarakat adat dalam menjaga kawasan hutan yang sekaligus memitigasi konflik antara manusia dan harimau.

Kita yang hidup sekarang harus menyadari kekeliruan kita dalam konsep pembangunan yang tak bijaksana. Karena menempatkan kita seakan menjadi korban harimau, padahal kita berperan sebagai perusak keseimbangan alam.


Baca juga: Harimau muncul di pemukiman warga, ini langkah cepat BKSDA



Editor : Febrianto Budi Anggoro

COPYRIGHT © ANTARA 2026