Kepala Humas PHE NSB dan PHE NSO, Amia Ramli kepada wartawan di Lhoksukon, Kamis menyatakan, rumpon tersebut diperuntukkan nelayan Aceh Utara, Aceh Timur dan Kota Lhokseumawe pada tahun 2018 dan proses penyerahannya sudah dilakukan beberapa hari lalu.
Penyerahan rumpon ini, kata Armia Ramli, atas kerja sama PHE NSB dan PHE NSO dengan pihak Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh Utara, bersama pihak Lembaga Panglima Laot setempat, sebagai upaya untuk meningkatkan produksi ikan di perairan tersebut.
Armia Ramli merincikan, dari delapan unit rumpon tersebut, lima di antaranya diperuntukkan ke perairan Kabupaten Aceh Utara, dua unit ke perairan Kabupaten Aceh Timur dan satu lagi untuk perairan Lhokseumawe.
Rumpon tersebut, kata Armia Ramli, saat ini sudah dalam proses peletakan di laut masing-masing seperti yang telah ditentukan pihaknya, dengan harapan tangkapan nelayan ke depannya lebih meningkat.
"Ini adalah program untuk menyejahterakan nelayan kita, agar produksi ikan di perairan Aceh Utara, Aceh Timur dan Lhokseumawe meningkat dibandingkan sebelumnya," kata Armi Ramli.
Di samping itu, juga sebagai upaya pencegahan agar nelayan tidak melakukan aktivitas penangkapan ikan di dekat anjungan produksi migas lepas pantai North Sumatra Offshore, milik PHE NSB dan PHE NSO yang berada di sekitar lebih dari 10 mil atas perairan Jambo Aye, Kabupaten Aceh Utara.
Mencari ikan didekat anjungan produksi migas ini, disebut sangat berbahaya bagi keselamatan nelayan, jika sewaktu-waktu pipa mereka bocor. Jarak yang harus dihindari nelayan adalah 3 kilometer dari anjungan tersebut.
Secara terpisah, Sekretaris Panglima Laot (Lembaga adat laut) Aceh Utara, Asnawi Idris membenarkan, bahwa PHE NSB dan PHE NSO telah membantu rumpon untuk nelayan Aceh Utara.
"Pembuatan rumpon ini biasanya menghabiskan anggaran hingga Rp40 juta untuk satu unit, karena bahan untuk pembuatan rumpon tersebut banyak, termasuk ongkos untuk membawa ke laut," demikian Asnawi Idris.
Untuk diketahui, rumpon atau lebih dikenal dengan tuasan ini biasanya dipasang di laut dangkal dan laut dalam. Bahan digunakan untuk pembuatannnya berupa kayu atau pohon-pohon, beton, batu-batuan, termasuk besi dan jenis lainnya untuk pemberat agar tidak mudah dibawa arus laut.
Biasanya, plankton dan ikan-ikan kecil berdiam diri di rumpon, pemandangan itu tentu menarik gerombolan ikan besar untuk membuat sarang baru di lokasi rumpon dengan menjadikan plankton dan ikan-ikan kecil itu sebagai sumber makanan, dengan demikian dapat memudahkan nelayan menangkap ikan tersebut.
Pewarta: ZubirUploader : Salahuddin Wahid
COPYRIGHT © ANTARA 2026