Banda Aceh (ANTARA) - Usaha kerajinan pandai besi di antaranya membuat parang dan pisau masih tetap bertahan di Kabupaten Aceh Besar di tengah maraknya produk pabrikan.

Ketua Kelompok Pandai Besi SLM Gampong Lamblang Manyang, Kecamatan Darul Imarah, Kabupatan Aceh Besar, Sulaiman di Aceh Besar, Selasa, mengatakan, usaha pandai besi tetap bertahan karena masih ada permintaan.

"Permintaan parang maupun pisau dari masyarakat masih tetap ada, kendati kami harus bersaing dengan barang buatan pabrik yang dijual dengan harga murah," kata Sulaiman.

Menurut Sulaiman, usaha kelompok yang mereka rintis masih tetap bertahan karena menjaga kualitas produksi, tidak cepat rusah, sehingga bisa dipakai bertahun-tahun.

"Kalau kualitas bagus, tentu ada yang beli. Inilah yang kami jaga, sehingga usaha kami bisa bertahan hingga kini. Usaha pandai besi sudah  berlangsung empat generasi," sebut dia.

Sulaiman mengatakan, kelompok yang diketuainya beranggotakan 10 pandai besi. Setiap anggota kelompok memiliki tungku sendiri, namun lokasi tungku di satu tempat.

"Masing-masing pandai besi, mampu memproduksi parang atau pisau dua bilah setiap harinya. Harga produksi berkisar Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per bilah," sebut Sulaiman.

Menyangkut pemasaran, Sulaiman menyebutkan, sudah ada penampungnya. Penampung kemudian menjualnya di wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar.

"Produk kelompok kami biasanya dijual di pasar-pasar tradisional di Banda Aceh dan Aceh Besar. Bahkan ada juga menjualnya di daerah lain, terutama saat hari pekan," sebut Sulaiman.

Gampong Lamblang Mayang Kecamatan Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, dikenal sebagai desa pandai besi. Lebih 70 persen warga di desa ini memiliki bekerja sebagai pengrajin pandai besi .

"Keahlian pandai besi kami dapatkan secara turun temurun. Kerajinan ini sudah kali lakoni lebih dari empat generasi. Hampir setiap rumah warga memiliki usaha pandai besi," pungkas Sulaiman.

Pewarta: M.Haris Setiady Agus
Editor : Heru Dwi Suryatmojo

COPYRIGHT © ANTARA 2026