Banda Aceh, 17/3 (Antaraaceh) - Ketua DPD II Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh, Abbas Abdulah mengatakan, 70 persen umat muslim di Indonesia kecewa pada partai politik berbasis Islam karena tidak mampu memberikan tauladan yang baik bagi generasi penerus.
"Kalau dilihat dari sisi peta partai politik di Indonesia berbasis Islam, ada bebarapa mengecewakan seperti adanya khasus petinggi parpol, ini menurunkan elektabilitasnya, kaitanya dengan pemilu 2014 jelas akan jadi penurunan," katanya di Meulaboh, Minggu.
Hal itu disampaikan disela-sela Halqah Islam Peradaban (HIP) bertema "Dinamika Politik Umat Islam" di aula setdakab Aceh Barat yang diisi pemateri dari akademisi Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh.
Ustad Abbas mengatakan, umat Islam berharap adanya perubahan politik kearah Islam masih besar, dari surve membuktikan 70 persen masyarakat muslim di Indonesia menghendaki agar Islam itu dijadikan aturan  di negara.
Menurut dia, penurunan elektabilitas parpol berbasis Islam tersebut dimungkinkan tidak terpaku pada perubahan yang ada dalam sistem perpolitikan di Indonesia, justru perubahan itu terjadi seringkali diluar ring sistem, karenanya bisa saja parpol berbasis Islam akan kembali berada di posisi teratas.
Ia mengakui keberadaan parpol berbasis Islam di parlemen selama ini sedikit tidak sudah menyampaikan aspirasi masyarakat muslim seperti dilahirkannya kebijakan sensor tanyangan televisi, dan pemblokiran situs pornografi.
"Peran parpol berbasis Islam ada efeknya beberapa kebijakan kepada aspirasi cuma dengan persentasenya sangat kecil. Misalnya di Aceh dipersilahkan penerapan syariat Islam, sejak 2003 disahkan perpres syariat Islam di Aceh masih sangat jauh dari harapan Islam secara kaffah,"imbuhnya.
Lebih lanjut dikatakan, khasus tindak pidana korupsi yang melibatkan oknum parpol berbasis Islam diyakini sangat mempengaruhi parpol tersebut pada pemilu legislatif 2014 karena muncul persepsi masyarakat ternyata parpol islam sama saja dengan yang lain.
Selain itu kata dia, imbas dari persepsi demikian dapat mempengaruhi pergerakan Islam secara menyeluruh pada akhirnya sangat sulit mendapat sebuah kemenangan apabila masyarakat dilanda krisis kepercayaan.
Kata Abbas, pengaruh ketidak percayaan masyarakat terhadap pergerakan Islam ini juga akan berdampak juga kepada politisi partai yang bukan berbasis Islam yang memiliki kader muslim dengan perpolitikan membawa kebaikan umat Islam.
"Ini juga dapat berimbas kepada intitas  pergerakan Islam secara menyeluruh, artinya ketika poparpol Islam bisa melakukan seperti itu, masyarakat berasumsi jangan-jangan yang lain juga bisa begitu," Katanya menambahkan.


Editor : Salahuddin Wahid

COPYRIGHT © ANTARA 2026