Meulaboh (ANTARA Aceh) - Masyarakat Kabupaten Simeulue, Provinsi Aceh mendesak Pemerintah Aceh agar pelabuhan penyeberangan di Kecamatan Sama Tiga, Kabupaten Aceh Barat, segera difungsikan, agar transportasi laut dari dan ke daerah itu lebih lancar.
Ketua Ikatan pelajar Mahasiswa Simeulue (Ipelmas) Zulianto yang dihubungi di Meulaboh, Sabtu mengatakan masyarakat dan mahasiswa di daerah mereka sekarang dalam masa kesulitan, karena pelabuhan penyeberangan Labuhanhaji, Kabupaten Aceh Selatan, selama ini sudah dialihkan ke daerah lain.
"Jadi memang harapan kita mungkin lebih cepat penangganan Pelabuhan Labuhanhaji jangan dialihkan ke Kabupaten Aceh Singkil, karena jarak tempuh jauh dan kos bertambah tinggi untuk transportasi darat menuju daerah tujuan," katanya.
Masyarakat Simeulue sangat menanti kepastian beroperasinya pelabuhan penyeberangan di Aceh Barat karena lebih menghemat biaya transportasi, selain itu beroperasinya pelabuhan di Kuala Bubon, Kecamatan Sama Tiga ini memberi mereka pilihan alternatif.
Kata dia, daerah tujuan masyarakat Simeulue dominan untuk daratan wilayah pesisir barat Aceh, namun juga tidak menutup sampai keluar daerah dengan berbagai keperluan, baik bagi mahasiswa kuliah di luar Aceh, maupun masyarakat pelaku bisnis dan keperluan keluarga.
Sekarang ini rute keberangkatan kapal feri menggangkut masyarakat berada di kepulauan terluar Provinsi Aceh itu terpaksa dialihkan melalui pelabuhan Kabupaten Aceh Singkil, demikian juga sebaliknya karena pelabuhan penyeberangan di Labuhanhaji sedang dalam renovasi pascakecelakaan.
Menurut Zulianto, kondisi tersebut tidak memberikan peluang masyarakat mendapatkan pilihan pelayanan armada kapal keberangkatan lain, bilapun ada kapal perintis KM Sabuk Nusantara, namun tidak mampu mengakafer tingginya aktivitas penguna jasa.
"Sebetulnya ada transportasi udara, cuma biayanya tidak mungkinlah mampu bagi kalangan mahasiswa atau masyarakat biasa. Saat ini memang volumenya normal, tapi permasalahanya adalah pemindahan ini membuat kos lebih tinggi," sebutnya.
Lebih lanjut dikatakan, selama ini volume keberangkatan armada laut cukup maksimal baik itu dari Labuhan Haji-Sinabang bahkan yang saat ini Singkil-Sinabang, hanya saja perbedaan waktu jarak tempuh dan kos tambahan darat mencapai Rp200 ribu.
Kepadatan penumpang kapal feri menuju Simeulue terjadi saat memasuki hari libur panjang dan memasuki musim arus mudik lebaran Idul Fitri maupun Idul Adha, pada saat kondisi arus mudik ini penumpang di dalam kapal padat dan berdesakan.
Zulianto mengakui, setiap lokasi penempatan pelabuhan penyebarangan menuju Simeulue memiliki kelebihan dan kekurangan karena telah melewati berbagai kajian, hanya saja pemerintah perlu menambah pengoperasian pelabuhan yang sudah ada agar masyarakat diberi pilihan mengunakan rute mana yang dianggap lebih menguntungkan.
"Kalau boleh memilih, kami masyarakat dan mahasiswa dari Simeulue berharap pelabuhan di Aceh Barat itu segera difungsikan, karena secara geografis wilayah barat selatan itu ditengah dan bisa menjangkau mudah daerah tujuan," katanya.
Informasi dihimpun selama ini, pembangunan pelabuhan penyeberangan di Lhok Bubon, Kecamatan Sama Tiga dibangun secara bertahap dengan dana APBN yang dikucurkan pemerintah lebih Rp40 miliar sejak 2010 dengan target tuntas sebelumnya pada 2015.
Bahkan pengajuan kelanjutan proyek muliti years sampai pada pengoperasiannya juga sudah disampaikan secara langsung oleh Bupati Aceh Barat Alaidinsyah kepada Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) saat berkunjung ke daerah itu.
Sampai saat ini kondisi pelabuhan penyeberangan ini telah menyelesaikan tahap finishing dan menanti segera dilakukan peresmian, bahkan pihak kementrian terkait sudah pernah meninjau, demikian juga ASDP selaku pengelola kapal fery sudah melihatnya.
"Kita memang mendorong pemerintah Kabupaten Simeulu, Aceh Barat dan Pemerintah Aceh untuk segera menyelesaikan persoalan ini, masyarakat selalu bertanya-tanya kepada kami, kapan pelabuhan penyeberangan di Meulaboh itu berfungsi," kata Zulianto menambahkan.
Ketua Ikatan pelajar Mahasiswa Simeulue (Ipelmas) Zulianto yang dihubungi di Meulaboh, Sabtu mengatakan masyarakat dan mahasiswa di daerah mereka sekarang dalam masa kesulitan, karena pelabuhan penyeberangan Labuhanhaji, Kabupaten Aceh Selatan, selama ini sudah dialihkan ke daerah lain.
"Jadi memang harapan kita mungkin lebih cepat penangganan Pelabuhan Labuhanhaji jangan dialihkan ke Kabupaten Aceh Singkil, karena jarak tempuh jauh dan kos bertambah tinggi untuk transportasi darat menuju daerah tujuan," katanya.
Masyarakat Simeulue sangat menanti kepastian beroperasinya pelabuhan penyeberangan di Aceh Barat karena lebih menghemat biaya transportasi, selain itu beroperasinya pelabuhan di Kuala Bubon, Kecamatan Sama Tiga ini memberi mereka pilihan alternatif.
Kata dia, daerah tujuan masyarakat Simeulue dominan untuk daratan wilayah pesisir barat Aceh, namun juga tidak menutup sampai keluar daerah dengan berbagai keperluan, baik bagi mahasiswa kuliah di luar Aceh, maupun masyarakat pelaku bisnis dan keperluan keluarga.
Sekarang ini rute keberangkatan kapal feri menggangkut masyarakat berada di kepulauan terluar Provinsi Aceh itu terpaksa dialihkan melalui pelabuhan Kabupaten Aceh Singkil, demikian juga sebaliknya karena pelabuhan penyeberangan di Labuhanhaji sedang dalam renovasi pascakecelakaan.
Menurut Zulianto, kondisi tersebut tidak memberikan peluang masyarakat mendapatkan pilihan pelayanan armada kapal keberangkatan lain, bilapun ada kapal perintis KM Sabuk Nusantara, namun tidak mampu mengakafer tingginya aktivitas penguna jasa.
"Sebetulnya ada transportasi udara, cuma biayanya tidak mungkinlah mampu bagi kalangan mahasiswa atau masyarakat biasa. Saat ini memang volumenya normal, tapi permasalahanya adalah pemindahan ini membuat kos lebih tinggi," sebutnya.
Lebih lanjut dikatakan, selama ini volume keberangkatan armada laut cukup maksimal baik itu dari Labuhan Haji-Sinabang bahkan yang saat ini Singkil-Sinabang, hanya saja perbedaan waktu jarak tempuh dan kos tambahan darat mencapai Rp200 ribu.
Kepadatan penumpang kapal feri menuju Simeulue terjadi saat memasuki hari libur panjang dan memasuki musim arus mudik lebaran Idul Fitri maupun Idul Adha, pada saat kondisi arus mudik ini penumpang di dalam kapal padat dan berdesakan.
Zulianto mengakui, setiap lokasi penempatan pelabuhan penyebarangan menuju Simeulue memiliki kelebihan dan kekurangan karena telah melewati berbagai kajian, hanya saja pemerintah perlu menambah pengoperasian pelabuhan yang sudah ada agar masyarakat diberi pilihan mengunakan rute mana yang dianggap lebih menguntungkan.
"Kalau boleh memilih, kami masyarakat dan mahasiswa dari Simeulue berharap pelabuhan di Aceh Barat itu segera difungsikan, karena secara geografis wilayah barat selatan itu ditengah dan bisa menjangkau mudah daerah tujuan," katanya.
Informasi dihimpun selama ini, pembangunan pelabuhan penyeberangan di Lhok Bubon, Kecamatan Sama Tiga dibangun secara bertahap dengan dana APBN yang dikucurkan pemerintah lebih Rp40 miliar sejak 2010 dengan target tuntas sebelumnya pada 2015.
Bahkan pengajuan kelanjutan proyek muliti years sampai pada pengoperasiannya juga sudah disampaikan secara langsung oleh Bupati Aceh Barat Alaidinsyah kepada Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) saat berkunjung ke daerah itu.
Sampai saat ini kondisi pelabuhan penyeberangan ini telah menyelesaikan tahap finishing dan menanti segera dilakukan peresmian, bahkan pihak kementrian terkait sudah pernah meninjau, demikian juga ASDP selaku pengelola kapal fery sudah melihatnya.
"Kita memang mendorong pemerintah Kabupaten Simeulu, Aceh Barat dan Pemerintah Aceh untuk segera menyelesaikan persoalan ini, masyarakat selalu bertanya-tanya kepada kami, kapan pelabuhan penyeberangan di Meulaboh itu berfungsi," kata Zulianto menambahkan.
Pewarta: Pewarta : AnwarUploader : Salahuddin Wahid
COPYRIGHT © ANTARA 2026