Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Tamiang melalui Dinas Sosial (Dinsos) sudah punya cadangan bahan logistik sandang dan pangan sebagai antisipasi bila kembali terjadi bencana alam di daerah itu.

Kepala Dinas Sosial Aceh Tamiang Zulfiqar di Aceh Tamiang, Senin, mengatakan saat ini cadangan logistik berupa bahan kebutuhan pokok dan peralatan dapur disimpan di gudang Buffer Stock milik Dinsos setempat di kawasan Desa Paya Bedi, Kecamaan Rantau.

“Logistik ini kita simpan sebagai stok penyanggah bila terjadi bencana alam. Karena ada ramalan/prakiraan iklim dari BMKG dan menurut kebiasaannya di bulan Desember 2022 hingga Janurai 2023 masih akan terjadi puncak banjir di Aceh Tamiang,” kata Zulfiqar.

Baca juga: Cegah luapan banjir, Pj Bupati Abdya Instruksikan BPBK bersihkan sampah

Pria yang akrab disapa Ulong ini mengatakan logistik yang ada di gudang buffer stock saat ini di antaranya, 10 ton beras, ratusan kotak mie instan, ratusan dus minyak goreng, ratusan tabung gas dan ratusan paket sembako.

Kemudian sandang seperti baju bekas layak pakai, matras, selimut, kompor dan lain-lain. Termasuk seng dan triplek untuk rumah warga yang rusak akibat banjir dan tanah longsor.

Sementara itu persedian logistik disetiap kecamatan juga sudah distok sebagai antisipasi bila terjadi bencana alam seperti banjir, tanah longsor maupun kebakaran.

Baca juga: Wali Nanggroe lihat masjid yang nyaris hanyut di Aceh Tamiang

“Ada 12 kecamatan di Aceh Tamiang seluruhnya sudah punya persediaan logistik yang cukup. Bahkan di Kecamatan Bendahara kalau untuk logistik sudah penuh, karena ada sejumlah pihak ketiga menyerahkan langsung bantuan ke kecamatan terdampak banjir waktu itu,” terang Ulong.

Menurut Kadinsos Aceh Tamiang seluruh bantuan logistik baik di gudang Dinsos dan kecamatan berasal dari pemerintah dan pihak ketiga. Untuk bantuan dari pemerintah dalam hal ini Pemda, Pemprov, BNPB dan Kemensos RI sudah habis disalurkan pada saat awal banjir. Sementara bantuan logistik yang mengalir dari pihak ketiaga seperti perusahaan, lembaga, komunitas termasuk pemerintah daerah lain distok.

Dalam konteks ini Ulong menjelaskan, pascabanjir surut dan seluruh warga mengungsi sudah pulang ke ruamah masing-masing penyaluran logistik dihentikan karena kondisi sudah normal.

Baca juga: Momen HGN diharap mampu bangkitkan semangat guru korban banjir Aceh Tamiang

“Bantuan pihak ketiga yang datang-nya pascabanjir itu jadi harus distok, kita simpan. Tapi waktu masih berlangsung bencana itu tidak ada kita stok sama sekali. Bahkan logistik yang masuk ke gudang hanya hitungan jam saja untuk keperluan dokumentasi kemudian kami telepon kecamatan-kecamatan merapat langsung disalurkan,” ungkap Ulong.

Lebih lanjut Ulong menyatakan, mekanisme setiap penyaluran bantuan dan barang yang masuk wajib membuat berita acara serah terima (BAS). Artinya semua bantuan barang itu dipertanggung jawabkan ada datanya.

“Ada data masuk data keluar dan data yang menerima yaitu para camat. Camat juga yang menandatangani BAS logistik itu,” jelas Zulfiqar.

Diakuinya sekarang itu banyak masuk bantuan logistik dari pihak ketiga, namun ada arahan dari Bupati dan Forkopimda Aceh Tamiang harus dijalankan Dinsos untuk persediaan/buffer stok karena diperkirakan potensi bencana alam masih ada dua bulan ke depan.

Artinya meski bantuan logistik melimpah ruah di gudang buffer stock berukuran 10x20 meter itu dan setiap kecamatan, namun jika terjadi bencana banjir separah kemarin (awal November 2022) maka kurang barang, hanya dua hari saja sudah ludes. Oleh karena itu Pemda Aceh Tamiang mengambil sebuah kebijakan bantuan logistik yang ada tidak akan dihambur-hamburkan.

“Kalau seandainya logistik ini dibagi semuanya, nanti pas kejadian banjir dalam waktu dekat ini bagaimana. Kita enggak ada stok, sementara dana ABPK kita terbatas, kami pasti disalahkan nanti, dianggap pemda tidak peduli dan segala macam,” ujar Zulfiqar.

Maka dari itu, kata Zulfiqar antisipasi sejak dini sudah dilakukan Pemkab Aceh Tamiang dengan mengedrop logistik full di kecamatan-kecamatan supaya jika ada kampung yang masih terdampak banjir hari ini bisa langsung ditangani karena di kecamatan sudah ada barangnya.

“Begitu habis langsung kita suplai lagi logistik dari gudang buffer stock sejauh persediaan cadangan masih ada,” katanya.

Selain logistik, papar Ulong Aceh Tamiang miliki persediaan 100 ton Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dititip di Perum Bulog. CBP ini berasal dari Kemensos RI untuk setiap daerah termasuk Aceh Tamiang mendapat jatah 100 ton setiap tahun. Di 2022 Aceh Tamiang sudah ambil 60 ton dengan rincian dikeluarkan pada saat banjir di bulan Januari 2022 15 ton dan bencana banjir November 2022 45 ton. Sementara sisanya 40 ton lagi masih ada di Bulog Cabang Langsa.

“Untuk tahun ini masih ada tersisa beras 40 ton, kapan mau kita gunakan saat kejadian bencana tinggal kita ambil. Kalau tidak ada bencana tersimpan di Bulog tahun depan cadangan beras pulih kembali menjadi 100 ton lagi. Jatah tetap 100 ton setiap tahun memang dialokasikan, berapa banyak yang terpakai Kementerian Sosial yang akan bayar kepada Bulog,” jelas Ulong.

“Nah, beras yang sudah kita pakai tahun ini 60 ton itu kita pertanggung jawabkan dengan buat berita serahterima ke camat-camat. Dan, kita tidak memberikan logistik ini ke orang per orang tapi camat yang mengkomendoi di kecamatan karena camat yang mengetahui wilayah dan kondisi terdampak dan masyarakatnya,” sambung Zulfiqar.
 

Pewarta: Dede Harison

Editor : Heru Dwi Suryatmojo


COPYRIGHT © ANTARA News Aceh 2022