Betapa teririsnya hati kedua perempuan muda yang akan menyandang janda itu, sebab dua dari delapan jenazah di dalam mobil ambulan tersebut adalah suami mereka, dan pekan lalu masih berkomunikasi menanyakan keadaan di kampung (Aceh).
"Terakhir sekali menelpon dan mengatakan akan pulang, tapi melalui 'pintu belakang'. Saya menasehati agar kalau tidak bisa pulang secara resmi, sebaiknya ditunda dulu, dan keadaan laut juga sedang angin kencang," kata Roslinda, isteri almarhum Muhammad Safri.
Muhammad Safri (37) adalah salah seorang korban kapal tongkang tenggelam yang mengangkut sebanyak 97 TKI di Perairan Pulau Carey, Kuala Langat, Selangor, Malaysia pada 18 Juni 2014.
"Kami saat ini sedang berada ditengah-tengah hutan, dan banyak orang-orang yang akan pulang," kata Roslinda menirukan kalimat terakhir suaminya sebelum naik kapal dan akhirnya tenggelam.
Roslinda menjelaskan, ia juga mengingatkan suaminya agar tidak memaksakan diri untuk pulang kalau memang melalui "jalan belakang" karena sangat berisiko pada keselamatan jiwa.
"Setelah sempat berkomunikasi beberapa detik, akhirnya jaringan telepon kami terputus," kata dia seraya menyebutkan suaminya berencana pulang ke Aceh untuk melaksanakan hajatan kenduri kepada almarhum orangtuanya di Bireuen.
M Safri meninggalkan empat orang anak dari pernikahannya dengan Roslinda, dan keempat anaknya masih kecil-kecil, tertua berusia delapan tahun dan si bungsu barumur empat tahun.
"Kami tinggal di rumah orangtua saya di Stabat, Sumatera Utara. Saya sebelumnya juga Tenaga Kerja Wanita di Malaysia, dan setelah itu kami menikah. Suami saya tetap bekerja sebagai pedagang barang kelontong di Kedai Runcit, Pucung, Malaysia," kata Roslinda.
Kesedihan juga mendera Anisah, sebab kepulangan suaminya, Iskandar (36), hari ini berbeda dengan tahun-tahun lalu saat menjelang Puasa Ramadhan.
"Sebelum pulang, suami saya mengatakan sudah merencanakan untuk kenduri sunatan anak kami, Nuzuli Fikri yang kini berusia 11 tahun," kata Anisah dengan mata berkaca-kaca.
Ilyas, orangtua dari Iskandar menuturkan terakhir berkomunikasi dengan anaknya pada Selasa (17/6). Dan salah satu isi percakapannya yakni Iskandar akan pulang "lewat belakang" karena kehabisan uang.
"Sehari-hari ia (Iskandar) berjualan buah di pasar Pasar Chow Kit, Kuala Lumpur. Dan ini pulang ke kampung rencananya melaksanakan hajatan kenduri sunatan anaknya, sekaligus berpuasa di kampung," kata Ilyas seraya menjelaskan Iskandar merantau ke Malaysia sejak tahun 2000.
Para keluarga korban yang ditinggalkan memang ikhlas dalam menerima cobaan atas kehilangan dan meninggalnya anak, orangtua atau suami mereka akibat tragedi tenggelamnya kapal naas itu di Perairan Pulau Carey, Kuala Langat, Selangor, Malaysia.
Namun dibalik itu, beberapa kalangan terutama di Aceh merasa ragu jika disebutkan tenggelamnya kapal yang ditumpangi sebanyak 97 TKI tersebut karena kelebihan kapasitas angkut armada.
Usut penyebab karam
Bahkan Pemerintah Aceh menyebutkan ada dugaan lain sebagai penyebab karamnya kapal TKI yang menyebabkan 14 penumpang ditemukan tewas di laut, dan 11 jenazah telah dimakamkan di Tanah Air (10 di Aceh, dan satu Sumut).
Karenanya, Pemerintah Aceh meminta pusat untuk membentuk tim pencari fakta kasus tenggelamnya kapal tongkang yang mengangkut sebanyak 97 TKI tersebut.
"Agar tidak simpang siurnya informasi penyebab karamnya kapal pengangkut TKI asal Aceh itu, Pemerintah Aceh meminta Pemerintah Pusat membentuk tim pencari fakta," kata Karo Humas Setda Aceh Murthalamuddin.
Pemerintah Aceh juga mendorong Pusat untuk menjaga kehormatan bangsa terkait musibah tersebut, karena korban merupakan warga Indonesia.
"Apapun penyebab karamnya kapal pengangkut TKI asal Aceh itu harus diungkapkan, karena ini menyangkut kehormatan bangsa," kata Murthalamuddin menambahkan.
Selain itu, ia juga mendesak Pemerintah Indonesia dan Malaysia untuk menyelidiki penyebab musibah kapal karam tersebut dan mengungkapnya ke publik, agar tidak adanya polemik antar kedua negara.
"Bagi Aceh kasus ini bisa menjadi pemicu rusaknya stabilitas, oleh karenanya akan membantu siapapun untuk mengungkap kasus ini," katanya menambahkan.
Pemerintah Aceh juga mengimbau kepada keluarga korban dan seluruh masyarakat agar bersabar menunggu langkah langkah pemerintah dalam kasus ini.
Gubernur Aceh Zaini Abdullah berjanji akan mendorong dan fokus agar pemerintah untuk mendapat kejelasan terhadap kasus tersebut,¿ tegasnya.
Di pihak lain, Murthalamuddin menjelaskan masyarakat masih terus menghubungi posko informasi dan pengaduan korban kapal tenggelam, dan jasad penumpang kapal itu hingga kini belum memiliki identitas, dan masih disemayamkan di rumah sakit di Selangor.
Masyarakat umumnya menanyakan keberadaan keluarga mereka yang diduga ikut menjadi korban, diantaranya 30 orang di Balai Polisi Teluk Panglima Garang, dan 31 orang di Kastam (imigrasi) Malaysia, kata dia menambahkan.
Saat ini, terdapat sebanyak 61 korban selamat dari tenggelamnya kapal tongkang jetty itu ditahan di kantor polisi dan imigrasi Malaysia.
Pemerintah Aceh meminta agar mereka yang ditahan itu segera bisa dipulangkan ke Aceh tanpa harus menjalani proses hukum.
"Pemerintah Aceh mengupayakan agar korban yang selamat tidak diproses hukum, tapi bisa segera dipulangkan," kata Murthalamuddin.
Sementara itu, pengamat hubungan Malaysia-Indonesia, M Adli Abdullah, menyarankan Pemerintah RI perlu secara aktif ikut dilibatkan dalam penyelidikan kasus tenggelamnya kapal yang mengangkut TKI itu.
"Saya menilai keterlibatan Pemerintah Indonesia diperlukan untuk mengetahui juga penyebab kapal itu tenggelam, sebab di dalam kapal naas tersebut adalah Warga Negara Indonesia," katanya menjelaskan.
Apalagi, staf pengajar Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala itu menjelaskan perlunya keterlibatan Pemerintah Indonesia untuk menjawab berbagai isu lain sebagai penyebab tenggelamnya kapal yang mengangkut sebanyak 97 TKI.
"Paling penting juga adanya keterbukaan Pemerintah Malaysia untuk menyelidiki dan menjelaskan secara terbuka penyebab kapal naas itu tenggelam," kata dia menambahkan.
Dipihak lain, M Adli Abdullah juga meminta Pemerintah Pusat untuk membenahi pelayanan yang diberikan pihak Kedutaan Besar RI di Kuala Lumpur kepada para TKI.
"Sebab, informasi yang saya peroleh selama ini menyebutkan para TKI sulitnya mendapatkan Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP). Berbelitnya urusan untuk itu, terkadang membuat mereka nekad pulang ke Tanah Air tidak melalui transportasi resmi," kata dia,
Kalau itu benar, M Adli Abdullah meminta Pemerintah Pusat segera membenahi agar kasus-kasus seperti tenggelamnya kapal di Kuala Langat tersebut tidak terulang kembali dimasa mendatang.
Kasus tenggelamnya kapal tongkang pengangkut TKI itu diharapkan menjadi prioritas untuk dilakukan investigasi atau diselidiki guna mencari kebenaran sebagai penyebab karamnya kapal tersebut.
TKI, terlepas legal atau illegalnya masuk ke negara tetangga itu sayogianya tetap diperlakukan manusiawi. Dan peristiwa-peristiwa pilu yang kerap didera oleh "pahlawan" devisa itu kedepan tidak terulang kembali.
Pewarta:
Oleh : Azhari