“Kita berupaya mewujudkan Aceh Besar sebagai salah satu daerah lumbung daging sapi di Aceh melalui peningkatan populasi ternak," kata Kepala Dinas Peternakan Aceh Besar Ahmad Tarmizi di Banda Aceh, Sabtu.
Ia menjelaskan, sebelum 2013 jumlah ternak sapi dan kerbau di kabupaten berpenduduk hampir 300 ribu jiwa itu mencapai 73 ribu ekor.
"Artinya pascatsunami 2004, populasi ternak sapi dan kerbau di Aceh Besar menurun drastis jika dibandingkan sebelum tsunami," katanya menyebutkan.
Rendahnya populasi ternak itu telah berdampak tingginya harga daging sapi dan kerbau, terutama menjelaskan har-hari besar keagamaan seperti Idul Fitri atau menjelang Ramadhan atau bulan puasa, yang terkadang mencapai Rp150.000 perkilogram.
Daging Sapi dan Kerbau yang diproduk petani di daerahnya, Ahmad Tarmizi menjelaskan tidak hanya untuk kebutuhan Aceh Besar tapi juga memenuhi kebutuhan masyarakat Kota Banda Aceh.
Karenanya, Dinas Peternakan Aceh Besar tetap fokus pada program peningkatan populasi ternak sapi, dan kerbau sebagai upaya meningkatkan produksi daging hingga 2017.
Upaya yang dilakukan itu hingga semester partama 2014, dia menyebutkan jumlah ternak sapi, dan kerbau telah mencapai 108 ribu ekor.
"Tahun 2015, kami melanjutkan program tahun sebelumnya berupa peningkatan populasi ternak, dengan harapan dapat meningkatkan produksi daging bagi kebutuhan masyarakat Aceh Besar dan Kota Banda Aceh,” kata Ahmad Tarmizi.
Program peningkatan populasi ternak itu antara lain melalui pendistribusian ternak sapi betina kepada masyarakat atau kelompok petani di sejumlah desa di Aceh Besar.
Selain itu, Dinas Peternakan Aceh Besar juga meningkatkan sarana dan prasarana pendukung untuk program peningkatan populasi ternak melalui alat Inseminasi Buatan (IB) dan cemen beku (sperma).
Pewarta: Pewarta : AzhariUploader : Salahuddin Wahid
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.