Subulussalam (ANTARA Aceh) - Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Subulussalam menilai sektor pertanian memiliki potensi yang cukup besar untuk meningkatkan kemajuan dan perkembangan Subulussalam daerah menuju kearah yang lebih baik.
Ketua BPS Kota Subulussalam, Ir Farida Husna di Subulussalam, Kamis mengatakan lapangan usaha dibidang pertanian dan peternakan mampu menyerap banyak tenaga kerja, sehingga sangat baik untuk kemajuan kota ini ke depan.
''Sektor ini sangat banyak menampung tenaga kerja, hasil dari pertanian dan peternakan lalu dibawa ke pasar ditampung oleh sektor perdagangan, jadi ada kesinambungan, maka sektor ini sangat strategis menurut saya,'' kata Farida.
Namun ia khawatir dengan kondisi alih fungsi lahan pertanian mejadi kebun kelapa sawit yang saat ini masih terjadi di wilayah Subulussalam, karena ini dapat mengancam sektor pertanian beberapa tahun ke depan. sejatinya, warga harus mendukung program Presiden Jokowi yang meningkatkan swasembada pangan dengan meningkatkan produksi beras, tanpa melakukan alih fungsi lahan.
Saat ini, kata Farida, Subulussalam belum mampu memproduksi beras sendiri sehingga harus didatangkan dari luar daerah seperti Tapaktuan dan Sidikalang. Sementara daerah ini memiliki sektor pertanian yang sangat luas dan bisa memenuhi kebutuhan warga lokal jika dikelola dengan baik.
''Semua dari luar seperti ikan dari Bakongan dan Singkil, sayuran dari Sidikalang terkecuali sawit,'' kata dia.
Berdasarkan persentase produk domestik regional bruto (PDRB) tahun 2014, sektor pertanian dan peternakan serta perburuan dan jasa pertanian menyumbang 23,57 persen untuk kagori penyumbang manfaat bagi masyarakat, disusul sektor perdagangan besar dan enceran yakni 15,15 persen.
''Sementara terendah pada sektor pengolaan, sampah dan limbah serta daur ulang yang hanya 0.02 persen,'' ujar dia.
Farida Husna menambahkan, lapangan usaha di kota Subulussalam terjadi perubahan sejak tahun 2014 dari sebelumnya hanya delapan sektor menjadi 18 lapangan usaha. Pada tahun 2013 meliputi sektor pertanian, pertambangan, industri pengolahan, listrik dan gas, kontruksi, perdagangan, transportasi, jas keuangan dan administrasi pemerintahan.
Sedangkan tahun 2014 terjadi penambahan beberapa sektor lapangan usaha seperti peternakan, kehutanan, perikanan, pengadaan air dan pengolahan sampah, informasi dan komunikasi, penyediaan akomodasi dan makanan, jasa perusahaan, pendidikan dan jasa kesehatan serta real estat.
''Perubahan ini terjadi karena ada perubahan harga konstan dalam 10 tahun sekali, penambahan lapangan usaha ini sangat baik untuk kemajuan daerah dan mendorong pertumbuhan ekonomi, tidak hanya di sektor pertanian tapi di berbagai sektor,'' tambah Farida Husna.
Ketua BPS Kota Subulussalam, Ir Farida Husna di Subulussalam, Kamis mengatakan lapangan usaha dibidang pertanian dan peternakan mampu menyerap banyak tenaga kerja, sehingga sangat baik untuk kemajuan kota ini ke depan.
''Sektor ini sangat banyak menampung tenaga kerja, hasil dari pertanian dan peternakan lalu dibawa ke pasar ditampung oleh sektor perdagangan, jadi ada kesinambungan, maka sektor ini sangat strategis menurut saya,'' kata Farida.
Namun ia khawatir dengan kondisi alih fungsi lahan pertanian mejadi kebun kelapa sawit yang saat ini masih terjadi di wilayah Subulussalam, karena ini dapat mengancam sektor pertanian beberapa tahun ke depan. sejatinya, warga harus mendukung program Presiden Jokowi yang meningkatkan swasembada pangan dengan meningkatkan produksi beras, tanpa melakukan alih fungsi lahan.
Saat ini, kata Farida, Subulussalam belum mampu memproduksi beras sendiri sehingga harus didatangkan dari luar daerah seperti Tapaktuan dan Sidikalang. Sementara daerah ini memiliki sektor pertanian yang sangat luas dan bisa memenuhi kebutuhan warga lokal jika dikelola dengan baik.
''Semua dari luar seperti ikan dari Bakongan dan Singkil, sayuran dari Sidikalang terkecuali sawit,'' kata dia.
Berdasarkan persentase produk domestik regional bruto (PDRB) tahun 2014, sektor pertanian dan peternakan serta perburuan dan jasa pertanian menyumbang 23,57 persen untuk kagori penyumbang manfaat bagi masyarakat, disusul sektor perdagangan besar dan enceran yakni 15,15 persen.
''Sementara terendah pada sektor pengolaan, sampah dan limbah serta daur ulang yang hanya 0.02 persen,'' ujar dia.
Farida Husna menambahkan, lapangan usaha di kota Subulussalam terjadi perubahan sejak tahun 2014 dari sebelumnya hanya delapan sektor menjadi 18 lapangan usaha. Pada tahun 2013 meliputi sektor pertanian, pertambangan, industri pengolahan, listrik dan gas, kontruksi, perdagangan, transportasi, jas keuangan dan administrasi pemerintahan.
Sedangkan tahun 2014 terjadi penambahan beberapa sektor lapangan usaha seperti peternakan, kehutanan, perikanan, pengadaan air dan pengolahan sampah, informasi dan komunikasi, penyediaan akomodasi dan makanan, jasa perusahaan, pendidikan dan jasa kesehatan serta real estat.
''Perubahan ini terjadi karena ada perubahan harga konstan dalam 10 tahun sekali, penambahan lapangan usaha ini sangat baik untuk kemajuan daerah dan mendorong pertumbuhan ekonomi, tidak hanya di sektor pertanian tapi di berbagai sektor,'' tambah Farida Husna.
Pewarta: Pewarta : SudirmanUploader : Salahuddin Wahid
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.