Meulaboh (ANTARA Aceh) - Lembaga Pemasyarakatan Kelas II-B Meulaboh Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh, berupaya meningkatkan produktivitas warga binaan guna mewujudkan program Lapas Industri.
Kepala LP Kelas II-B Meulaboh, Sapto Winarno di Meulaboh, Sapto Winarno, di Meulaboh, Senin, mengatakan, Kementrian Hukum dan HAM RI pada 2016 telah meluncurkan program Lapas Industri secara serentak di setiap provinsi.
"Meskipun kita tidak ditunjuk, namun tetap berupaya melaksanakan program-program yang sejalan dengan Lapas Industri. Arahnya di samping narapidana memiliki keterampailan dan kemampuan saat sudah keluar, mereka juga mendapatkan profit," katanya seusai pembukaan kursus pelatihan keterampilan las, meubeler dan listrik bagi warga binaan Pemasyarakatan Lapas Kelas II-B Meulaboh.
Dengan program dari Balai Latihan Kerja (BLK) Banda Aceh tersebut diharapkan produk untuk mendapatkan profit dapat dipasarkan sehinggaa akan ada setoran ke kas negara berupa Pemasukan Negara Bukan Pajak (PNBP).
Program tersebut akan menentukan satu Lapas memiliki satu produk unggulan.
Tidak mustahil hal demikian dapat dikembangkan di semua lembaga pemasayarakatan Indonesia apabila memiliki sumber daya manusia dan peluang pasar, sebagaimana telah berhasil digerakan oleh Lapas Cipinang.
"Saat saya di Cipinang, di sana ada 17 item yang bisa kita laksanakan di sini. Dari 17 itu ada salah satu produk tekstil sudah berhasil kita ekpsor ke Nigeria hasil kerja warga binaan. Di samping ada batik dan segala macam itu kita pasarkan ke wilayah DKI Jakarta," ujar mantan Kepala Bidang Kegiatan Kerja pada Lapas Cipinang ini.
Di LP Meulaboh belum ada satu produk yang menonjol yang berpotensi untuk dikembangkan
Ia yang baru sekitar 3,5 bulan memimpin lembaga pemasyarakatan tersebut, melihat peluang-peluang tersedia yang dapat dikembangkan, termasuk melalui kegiatan pelatihan keterampilan yang diikuti oleh 48 warga binaan tersebut dapat mengarah pada pengembangan program itu.
Sapto menyebutkan, dirinya tidak menutup mata terhadap pengembangan ekonomi kreatif para warga binaan kaum perempuan, menurut dia selama ini sudah ada terlihat beberapa inovasi dari hasil karya mereka namun masih sulit untuk dipasarkan.
"Untuk pembinaan di lapas ini yang punya kewajiban itu ada tiga pilar. Pertama LP, Pemerintah dan keluarga, jadi tiga pilar ini menjadi tanggung jawab bersama. Dua pilar sudah jalan yakni LP dan pemda lewat kegiatan hari ini adalah buktinya," tuturnya.
Dia menambahkan, melalui kegiatan pelatihan keterampilan kerja warga binaan tersebut diharapkan semua warga binaan akan memiliki kemampuan untuk bekal saat mereka bebas melanjutkan kehidupan selayaknya masyarakat biasa.
Warga binaan yang mengikuti pelatihan BLK Banda Aceh pada LP Meulaboh berjumlah 48 orang yang dibagi dalam tiga pelatihan, masing-masing pelatihan satu item untuk 16 orang sesuai dengan alokasi yang disediakan oleh BLK Aceh.
Pewarta: AnwarUploader : Salahuddin Wahid
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.