Meulaboh (ANTARA Aceh) - Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Meulaboh, mencatat lebih 200 unit kapal dari dalam dan luar negeri melakukan aktivitas ekspor impor sepanjang 2016 di perairan Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh.
Kepala KSOP Meulaboh, Fauzi di Meulaboh, Kamis mengatakan, aktivitas pelayaran kapal tersebut mencakupi ekspor impor batu bara, Bahan Bakar Minyak (BBM), Crude Palm Oil (CPO), serta aktivitas pelayaran kapal penumpang.
"Untuk rata-rata per bulan sekitar 15 unit kapal beraktivitas, baik ekspor maupun impor, terutama saat ini adalah ekspor batu bara untuk pasokan PLTU dari Kalimantan dan ekspor batu bara perusahaan PT Mifa Bersaudara ke Negara India," katanya.
Dia merincikan, untuk ekspor bahan baku produksi dari daerah Aceh seperti batu bara milik perusahaan tambang PT Mifa Bersaudara 35.000 ton per kapal yang dilakukan rutin 2-3 kali dalam satu bulan dengan tujuan Negara India dan ke Aceh Besar.
Kemudian impor berupa bahan baku BBM milik PT Pertamina (persero) untuk distribusi ke wilayah barat dan selatan Aceh dengan jumlah 1.000 ton/kapal yang dilaksanakan rutin 2-3 kali dalam satu bulan mengunakan jasa pelabuhan daerah Aceh Barat.
Selain itu aktivitas yang pelayaran yang cukup rutin adalah untuk kapal penumpang yang mengunakan dua pelabuhan, seperti Pelabuhan Penyeberangan Meulaboh di Kuala Bubon, Kecamatan Samatiga dan Pelabuhan Jetty Meulaboh.
"Kalau di pengakutan penumpang kadang bisa delapan kali dalam satu bulan, seperti penyeberangan dari Meulaboh ke Sinabang, demikian halnya kapal perintis pemerintah yang melayani penumpang untuk wilayah barat selatan Aceh dan luar Aceh," sebutnya.
Lebih lanjut dikatakan, kondisi letak geografis daerah pantai wilayah kerjanya berhadapan langsung dengan laut lepas Samudera Hindia-Indonesia, bahkan banyak lokasi berlabuh kapal kondisi lautnya dangkal sehingga harus ada aktivitas transhipment.
Dalam ekspor impor batu bara dan BBM serta CPO, kapal melakukan aktivitas transhipment karena kedangkalan laut di kawasan teluk tidak bisa merapat bobot kapal besar ke pelabuhan, sehingga harus mengunakan kapal tongkang berukuran kecil.
Selain itu kata Fauzi, kondisi cuaca di perairan setempat cenderung dalam kondisi ekstrim sehingga banyak kapal besar terpaksa harus merapat ke teluk dan pelabuhan menghindari dari hempasan ketinggian gelombang laut 2-3 meter.
"Seperti kejadian dalam pekan ini, banyak itu kapal tongkang bawa batu bara dan minyak terpaksa merapat ke teluk karena cuaca ekstrim. Kalau sudah mendukung dan bahan baku mereka sudah cukup maka langsung beraktivitas seperti biasanya," sebut Fauzi.
Dia memastikan, kapal besar yang berlayar dari Negara India misalkan, semuanya telah melewati pemeriksaan Port State Control (PSC) terhadap kapal asing, demikian halnya kapal yang berangkat dari Indonesia melewati perairan Nikobar menuju Negara Hindia.
Pewarta: Anwar: Salahuddin Wahid
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.