Kata Zaid, kehadiran beragam gim itu telah memunculkan fenomena baru. Bagi para pemain gim, level gim yang dicapai menentukan status sosial mereka. Namun, tidak semua orang bisa dan punya kesempatan untuk mencapai level tertinggi di gim daring. Di sinilah, joki gim seperti  dirinya dibutuhkan.

Zaid mengaku, setiap harinya dapat memainkan sebanyak tiga akun berbeda dari penyewa jasa. Para penyewa jasanya pun beragam, mulai dari pelajar yang ingin tampil keren di hadapan teman hingga pekerja kantoran yang tidak sempat “grinding” yakni aktivitas berulang yang biasa dilakukan pemain gim untuk meningkatkan level.

“Biasanya yang minta dijokiin itu anak SMA atau kuliahan. Mereka ingin akunnya kelihatan keren, tapi enggak sempat main atau sering kalah,” katanya.

Baca: Meraup "cuan" melalui optimasi media sosial ala Ogut

Namun, permintaan joki gim tidak melulu meningkatkan level “push rank”. Ada juga pemain yang membutuhkan jasa joki untuk gim bergenre open world. Gim jenis ini menawarkan dunia virtual yang luas dan terbuka, di mana pemain diberi kebebasan melakukan berbagai aktivitas serta menentukan sendiri tujuan permainan.

Salah satu joki gim lainnya, Alham (22) bukan nama sebenarnya, memilih untuk mengkhususkan diri pada permintaan di gim open world. Alasannya, ia memang lebih menikmati bermain gim semacam Dragon Nest dan Toram Online.

Berbeda dengan Zaid, tugas laki-laki asal Kota Sinabang, Kabupaten Simeulue, ini bukan menaikkan peringkat, melainkan meningkatkan level karakter, menyelesaikan misi, hingga mengumpulkan bahan perlengkapan yang dibutuhkan pemain.

Alham mengatakan mulai menjajal menjadi joki gim sejak kuliah karena membutuhkan biaya hidup tambahan. Namun, dia kesulitan mencari pekerjaan sampingan yang fleksibel. Karena alasan itu, dia pun mencari cuan dengan menjadi joki gim.



Pewarta: Nurul Hasanah dan Zulfa Dillah
Editor : M.Haris Setiady Agus

COPYRIGHT © ANTARA 2026