Bagi dia, kepercayaan penyewa jasa dan pemahaman teknis terhadap gim adalah kunci utama untuk meningkatkan jumlah orderan. Tidak hanya itu, jika ada keluhan dari penyewa jasa, ia menyatakan siap memberikan solusi, mengganti akun, hingga mengembalikan uang ke penyewa jasa.
“Kita jaga nama baik karena banyak yang repeat order (red-menyewa jasa lagi) karena puas,” katanya sambil menunjukkan sederet testimoni pelanggan di akun Instagram miliknya.
Baca: Hello Goodboy, game sajikan petualangan emosional
Interaksi sosial bergeser
Menjadi joki gim pelan-pelan menggeser kehidupan sosial Alham. Teman-teman lamanya kini jarang ia temui. Jadwal yang dulu selaras, kini berjalan di jalur masing-masing. Ia lebih sering menghabiskan waktu dengan teman-temannya yang juga pemain gim.
“Kehidupan sosial sudah berubah, nongkrong kebanyakan sama kawan mabar. Kalau kawan kuliah mungkin sudah fokus skripsi atau bekerja. Sudah tidak sama seperti sebelumnya,” kata Alham.
Ironisnya, meski Alham masih dapat bertemu dengan teman yang juga pemain gim di dunia nyata, interaksi tetap terjadi di dunia gim virtual. Saat bertemu, mata dan jemari mereka tetap sibuk di layar ponsel.
Pakar Sosiologi dari Universitas Syiah Kuala, Masrizal, yang juga merupakan Sekjen Ikatan Keluarga Sosiolog (ISI) Aceh menjelaskan kehadiran joki gim muncul sebagai salah satu fenomena sosial baru akibat pengaruh transformasi digital.
“Kalau kita lihat dari konteks sosiologis itu. Joki gim ini muncul karena pengaruh dari transfromasi digital yang membentuk dinamika sosial baru,” katanya.
