Terseret arus

Setelah proses evakuasi, Maulizar bergerak kembali ke rumahnya di Asrama Polsek Muara Batu (Polres Lhokseumawe) Kecamatan Muara Batu untuk melihat istri dan anaknya yang sebelumnya ditinggal dalam kondisi banjir.

Saat berjalan kaki menuju rumah, tiba-tiba banjir susulan datang, hingga membuatnya terseret sejauh 800 meter karena kondisinya sudah kelelahan, dan tak mampu lagi melawan arus  hingga akhirnya tersangkut di batang bambu, bertahan di sana lebih dari 10 jam, tanpa makanan dan komunikasi terbatas.

"Saat itu, saya sempat mengirim pesan suara (voice note WhatsApp) kepada istri dan rekan saya, memberitahukan posisi saya jika terjadi sesuatu. Namun jaringan sangat buruk, sehingga tidak diketahui apakah pesan tersebut terkirim," katanya.

Tangkapan layar: Ketinggian air di kawasan Aceh Utara saat Aipda Maulizar terjebak banjir usai melakukan evakuasi sejumlah warga, Rabu (26/11/2026). (ANTARA/HO/Screenshot video Aipda Maulizar)

 

Dari batang bambu, ia kemudian melihat rumah warga yang berjarak sekitar tiga meter. Lalu, merebahkan tiga batang bambu itu ke atap rumah, selanjutnya merangkak naik ke rumah tersebut. 

"Di sana saya bertahan, meminum air hujan, dengan ketinggian air hampir mencapai atap. Saya sempat tertidur beberapa menit untuk memulihkan tenaga," tambahnya.

Setelah itu, karena tidak ada makanan dan bantuan yang datang, malam pun mulai datang, ia memutuskan kembali berenang mencari warga lainnya dengan bergelantungan pada kabel listrik yang memang tegangan sedang padam.

Lalu, ia mendapatkan bantuan makanan dari masyarakat yang juga sedang menyelamatkan diri ke atap rumah. 

Beberapa saat kemudian, Maulizar bertemu tim Paskhas TNI AU, dan akhirnya ikut bersama menggunakan perahu karet hingga Desa Gle Dagang, dan dilanjutkan dengan berjalan kaki hingga tiba di rumah. Ternyata, kediamannya sudah terendam banjir setinggi dua meter, dan keluarga tidak ada di sana.

Setelah dicari, Maulizar baru bertemu anak dan istrinya di hari kedua banjir, karena mereka sudah mengungsi ke rumah toko (ruko) di kawasan Krueng Mane. Mereka bertahan hingga lima hari di tempat pengungsian tersebut.

"Setelah itu, saya tidak lagi melakukan evakuasi dan fokus pada pemulihan. Saya sempat sakit selama satu hari karena kelelahan dan kondisi basah tanpa pakaian ganti," imbuhnya.

Baca juga: TNI selesaikan pembangunan jembatan bailey di Aceh Utara
 

Maulizar menegaskan, apa yang telah dilakukan ini merupakan panggilan jiwa, bukan hanya karena status sebagai aparat kepolisian. Apalagi, mendapatkan dukungan dari istri tercintanya.

Ini panggilan jiwa. Bahkan sebelum berangkat, istri saya juga mendukung dan mengatakan agar saya menolong masyarakat karena keluarga masih bisa menyelamatkan diri, sementara warga di sana sudah terjebak air setinggi atap. Dan Alhamdulillah keluarga juga selamat.

Dalam kesempatan ini, dirinya berpesan kepada semuanya, terkhusus anggota polisi, jika masih memungkinkan, mari menyelamatkan masyarakat semampunya. Mengayomi, melayani, dan melindungi masyarakat sudah menjadi tugas. Jangan pernah patah semangat untuk membantu.

"Saya sendiri hampir kehilangan nyawa, tetapi Alhamdulillah, masih diberikan umur panjang dan kesempatan hidup untuk terus membantu masyarakat," harap Aipda Maulizar.

 

Terima kasih

Ratna, salah seorang guru mengaji di Dayah Darul Abrar Desa Blang Reuling Kecamatan Sawang berkisah kala terjebak banjir akhir November 2025 lalu, ia berulang kali menelpon Maulizar agar dapat mengevakuasinya bersama sejumlah santri yang terjebak banjir.

"Saya terus menelpon Maulizar, saya minta bantu sebisa mungkin dibantu kami yang terjebak," kata Ratna.

Via telepon, lanjut dia, Maulizar sempat menenangkan dirinya yang panik menghadapi tingginya air, apalagi pertolongan membantu waktu mengingat jaraknya hampir yang cukup jauh, ditambah belum datangnya bantuan perahu.

"Saya panik, dan saya ditenangkan oleh Maulizar. Katanya cari tempat yang aman dulu, evakuasi mandiri dulu dan dia terus berusaha mendatangkan bantuan, apalagi speedboat nya didatangkan dari Lhoksukon (ibu kota Aceh Utara).

"Itu dari dari tengah malam, kami harus menunggu sampai subuh baru dapat dievakuasi. Dia (Maulizar) berusaha datang meski mengarungi airnya yang deras agar bisa menyelamatkan kami disini," sambungnya.

Baca juga: Relawan Kamoe potong rambut massal anak-anak di tenda pengungsian Aceh Utara
 

Ratna bersaksi, dalam perjalanan evakuasi, Ratna melihat Maulizar kembali membantu warga lainnya dengan berenang, bahkan sempat terseret arus.

"Perjuangan yang sangat luar biasa, terima kasih bapak Maulizar yang sudah membantu kami di Kecamatan Sawang, sehingga kami selamat, terima kasih setinggi-tingginya," ujarnya.

"Kami tidak bisa membalas budi pak Maulizar yang sudah menyelamatkan kami, terima kasih sekali lagi, semoga Allah SWT membalas semua kebaikannya," imbuh Ratna.

Anggota DPD RI asal Aceh Sudirman Haji Uma (kanan) saat menyerahkan piagam penghargaan kepada Aipda Maulizar atas jasanya membantu mengevakuasi korban terdampak banjir, di Aceh Utara, Kamis (26/3/2026) (ANTARA/HO/Tim Sudirman Haji Uma)

 

Rasa terima kasih sekaligus apresiasi hingga penghargaan juga didapatkan dari anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Aceh yakni Sudirman Haji Uma atas ketulusan pengabdian Aipda Maulizar membantu masyarakat yang sekarat.

Haji Uma menyatakan, penghargaan tersebut merupakan bentuk apresiasi dan penghormatan atas dedikasi serta pengabdian luar biasa kepada masyarakat, meskipun harus mempertaruhkan nyawa saat menyelamatkan warga yang terjebak banjir.

“Ini sangat menggugah perasaan dan rasa simpati kita. Beliau telah berupaya untuk menyelamatkan masyarakat meskipun dirinya sempat terseret arus banjir hingga mobilnya terbawa," katanya.

Ia menilai, tindakan tersebut sebagai bentuk pengabdian yang patut menjadi teladan bagi aparat lainnya. Perjuangannya luar biasa. Bahkan mengabaikan keselamatan diri demi masyarakat. 

"Kita berharap semangat seperti ini dapat menumbuhkan sinergi antara Polri dan masyarakat serta melahirkan lebih banyak prestasi di kalangan kepolisian,” katanya.

Besar harapan, kisah yang dialami Aipda Maulizar dapat menjadi inspirasi bagi banyak pihak dalam meningkatkan kepedulian dan kesiapsiagaan terhadap bencana.

Bukan untuk mencari pujian, melainkan adalah ketulusan dalam berbuat kebaikan, semata-mata demi mendapatkan pahala dari Allah SWT.


Baca juga: Polda Aceh percepat pembangunan jembatan untuk akses 7.000-an warga



Editor : Febrianto Budi Anggoro

COPYRIGHT © ANTARA 2026