Calang (ANTARA) - Masyarakat Kabupaten Aceh Jaya saat ini mulai memperdayakan daun kratom (Mitragyna speciosa) atau yang biasa disebut oleh orang Aceh adalah daun biak untuk menjadikan komodoti tersebut sebagai sumber ekonomi baru bagi mereka.

Daun liar yang biasa tumbuh di rawa-rawa  kini telah menjadi sumber baru penambahan pendapatan sebagian masyarakat menengah ke bawah di Kabupaten Aceh Jaya.


Paino (32) Salah seorang warga Aceh Jaya dan juga pencari daun kratom kepada Antara, Jumat (5/4) menyampaikan bahwa dirinya mau mencari daun tersebut karena ada nilai ekonomi dan ada penampung yang mau membeli.

"Daun kratom yang muda dan baru dipetik harganya sekitar Rp2.500 hingga Rp3.000/Kg oleh pengepul, jika harga kering dan sudah dilebur atau diayak harganya mencapai Rp13.000 per kilogram," tuturnya.

Paino menjelaskan sebagian masyarakat, mengkonsumsi daun kratom seperti cara meminum kopi, rasanya pahit kelat, dan juga dapat untuk mengobati luka luar. Kalau di luar Aceh daun ini digunakan untuk bahan obat tradisional.  

"Saat ini sudah banyak yang menggantungkan sumber pendapatan rumah tangga dengan mencari daun biak ini dan kita bisa dapat Rp200 ribu per hari," ungkap Paino.

Sementara itu, Sulaiman (30), Warga Desa Ligan, Kecamatan Sampoiniet, Aceh Jaya yang juga sebagai pencari daun biak menyampaikan bahwa daun itu biasa tumbuh liar di rawa dan hutan, serta tidak sulit mencarinya.

"Tidak ada yang menanam khusus pohon biak, biasanya orang di kampung kerap menggunakannya untuk pagar rumah, hanya baru-baru ini saja daun kayu ini laku dijual dan kabarnya dikirim luar negeri seperti ke Amerika," tegas Sulaiman.

Sulaiman menambahkan, dirinya melihat daun biak memiliki nilai jual membuat sejumlah masyarakat mulai mencarinya.

"Setiap pohon hanya mampu menghasilkan daun sekitar 10 sampai 20 kilogram, tergantung besar kecilnya," tuturnya.

Pewarta: Arif Hidayat
Editor : Heru Dwi Suryatmojo

COPYRIGHT © ANTARA 2026