Tapaktuan (ANTARA Aceh) - Harga tandan buah segar kelapa sawit di Kabupaten Aceh Selatan anjlok hingga Rp600 per kilogram, dari sebelumnya yang mencapai Rp1.400 per kilogram, sehingga membuat petani di daerah itu resah.

"Harga jual TBS kelapa sawit saat ini Rp600 per kilogram, itu belum termasuk ongkos angkut, upah dodos dan lansir, sehingga hasil bersih yang diterima petani hanya senilai Rp220 per kilogram," kata Taufik Kamil, etani di Desa Cot Bayu, Kecamatan Trumon Tengah, Minggu.    
    
Sejak tiga pekan terakhir ini, harga TBS kelapa sawit di Kabupaten Aceh Selatan turun drastis ke level Rp600 per kilogram, akibatnya, pendapatan petani sawit diwilayah itu juga ikut menurun.

Kondisi penurunan harga sawit mulai dirasakan petani sejak bulan Juli 2015, mulai dari Rp1.400 terus terpuruk hingga Rp650 sampai Rp600 per kilogram yang dibeli oleh agen pengumpul, katanya.

Menurutnya, merosotnya harga sawit itu telah berdampak pada terpuruknya perekonomian para petani di daerah itu, karena pendapatan yang diterima saat ini jauh berkurang dari sebelumnya.

Padahal, katanya, perkebunan kelapa sawit merupakan salah satu sumber pendapatan andalan masyarakat di daerah itu.

"Dengan kondisi saat ini, petani sawit di Aceh Selatan tidak mampu lagi menutupi biaya pemeliharaan dan perawatan kebun, apalagi untuk membeli pupuk non-subsidi yang dibutuhkan untuk menyuburkan tanaman sawit harganya jauh melambung tinggi. Sementara, pupuk bersubsidi justru sangat sulit didapatkan di pasaran," sesalnya.

Dia mengakui, selama ini hasil panen sawit di kebun miliknya berkisar antara Rp5 juta sampai Rp10 juta sekali panen, namun sejak kurs mata uang rupiah melemah terhadap kurs dolar Amerika Serikat telah berimbas pada merosotnya harga sawit, sehingga pendapatan petani pun juga ikut merosot.

"Pasca anjloknya harga sawit, dalam sekali panen saya hanya menerima pendapatan antara Rp2 juta sampai Rp3 juta. Jumlah ini sangat tidak setimpal untuk kebutuhan hidup, perawatan tanaman sawit dan pembayaran setoran kredit ke bank serta biaya sekolah anak-anak," ujarnya.  
    
Jika kondisi seperti ini terus berlanjut, sambungnya, kewajiban setoran kredit yang masih tersangkut dengan bank juga akan terancam tidak mampu dilunasi lagi, sehingga ini benar-benar membuat petani di daerah itu gelisah.

"Saat ini sejumlah petani sawit di wilayah Trumon Raya sudah mulai memikirkan siasat untuk memperpanjang masa jatuh tempo kredit di bank, untuk menghindari eksekusi agunan oleh pihak bank," tegasnya.

Karena itu, lanjut dia, pihaknya meminta kepada Pemkab Aceh Selatan dan Pemerintah Aceh serta Pemerintah Pusat segera mencari solusi untuk mengatasi persoalan itu, sebab jika persoalan ini terus dibiarkan akan berdampak buruk terhadap perekonomian masyarakat setempat.

"Jika pihak pemerintah tidak membantu petani, maka pemerintahan dinilai gagal karena pembangunan tanpa perbaikan ekonomi itu sama halnya nihil. Bagaimana mungkin menerapkan pembangunan dan peningkatan mutu pendidikan, jika perut rakyat lapar," katanya.

Ia mengharapkan kepada pemerintah dapat menormalkan kembali harga sawit, seperti kondisi sebelumnya yakni minimal bisa bertahan diatas harga Rp1.000/kg, karena dengan harga sebesar itu besar kemungkinan para petani bisa lancar menyetor pinjaman ke bank sehingga tidak terlilit hutang serta hal lainnya menyangkut dengan kebutuhan perekonomian petani.

Selain harga sawit, harga komoditi unggulan lainnya di Aceh Selatan seperti pala dan minyak nilam juga turut anjlok.

Buah pala mentah ditampung pedagang seharga antara Rp11.000 sampai Rp11.500/kg, dari sebelumnya Rp40.000 dan minyak pala ditampung Rp380.000/kg dari sebelumnya mencapai Rp1.100.000.

Sementara harga minyak nilam (atsiri) di pasaran saat ini, hanya bertengger pada level Rp600.000/Kg, sedangkan sebelumnya mencapai Rp900.000/Kg.

Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM Aceh Selatan Ridwansyah melalui Kabid Perdagangan Dermawan mengakui penurunan harga beberapa komoditas tersebut seperti sawit akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar.

Namun, secara detail duduk persoalan terkait anjloknya harga komoditas tersebut belum bisa dijelaskan oleh pihaknya karena hal itu bukan kewenangannya.



Pewarta: Pewarta : Hendrik
Uploader : Salahuddin Wahid

COPYRIGHT © ANTARA 2026