Tapaktuan (ANTARA Aceh) - Panglima Laot Kabupaten Aceh Selatan Tgk M Jamil menyatakan seharusnya insiden terbaliknya kapal nelayan di daerahnya yang menyebabkan dua orang tewas tidak perlu terjadi apabila mereka mematuhi instruksi lembaga adat laut tersebut.

"Kami sangat prihatin menyikapi insiden perahu terbalik akibat dihantam angin kencang dan gelombang besar setinggi 3 meter di perairan laut Desa Mata Ie, Kecamatan Pasie Raja, Sabtu (21/5)," katanya di Tapaktuan, Minggu.

Dikatakan, pihaknya telah sehari sebelumnya kejadian, yakni saat pelaksanaan kenduri adat laut pada Jumat (20/5) di Pasie Raja bahwa seluruh nelayan harus mengurungkan niat pergi melaut jika kondisi cuaca sedang buruk apalagi saat ini sedang musim barat.

"Saya sangat menyesalkan atas sikap Panglima Laot Pasie Raja yang tidak mengeluarkan larangan kepada nelayan setempat agar tidak melaut disaat kondisi cuaca sedang buruk apalagi semua pihak sudah tahu bahwa saat ini wilayah Aceh Selatan sedang dilanda musim barat," katanya.

Ironisnya lagi, sambung M Jamil, beberapa saat pasca insiden perahu terbalik di perairan laut Desa Mata Ie, Kecamatan Pasie Raja tersebut, dia langsung menghubungi Panglima Laot Kecamatan setempat, namun beberapa kali ditelphon meskipun terdengar panggilan masuk namun tidak bersedia diangkat.

"Ini merupakan salah satu bukti bahwa mereka telah merasa bersalah dan malu hati kepada saya, sebab sehari sebelumnya saya telah menyampaikan peringatan dihadapan nelayan setempat agar barhati-hati pergi melaut, jika memang cuaca sedang tidak mendukung maka dibatalkan niat melaut sebab kondisi saat ini sedang dilanda musim barat," ujarnya.

Menurut M Jamil, puluhan nelayan lainnya di beberapa kecamatan di Kabupaten Aceh Selatan seperti nelayan Lhok Meukek, Lhok Sawang dan Lhok Labuhanhaji justru sangat mematuhi instruksi yang dia sampaikan tersebut.

Buktinya, para nelayan di wilayah tersebut sudah hampir mencapai satu pekan lebih tidak melaut karena kondisi cuaca saat ini sedang tidak mendukung, katanya.

"Jika kurang percaya bisa lihat sendiri apakah benar sejumlah boat dan perahu nelayan di Lhok Pasie Meukek dan Lhok Labuhan Tarok, Kecamatan Meukek, tertambat sudah hampir satu pekan lebih di kolam pelabuhan PPI," katanya.

Para nelayan sudah sangat faham bahwa saat ini sedang musim barat dimana sewaktu-waktu bisa saja dilanda angin kencang dan gelombang besar setinggi lebih dari 3 meter. Kondisi itu sangat berbahaya bagi keselamatan nelayan itu sendiri, tegasnya.

Sementara itu, Pawang Perahu Sinar, Hasbi memastikan bahwa tenggelamnya perahu yang berisi 11 nelayan di Perairan laut Desa Mata Ie, Kecamatan Pasie Raja, Sabtu (21/5) sekitar pukull 09.30 WIB  bukan karena tidak melakukan kenduri laot, melainkan karena kondisi cuaca yang tidak mendukung.

"Insiden itu terjadi setelah para nelayan melaksanakan kenduri laot pada Jumat (20/5)," jelasnya.

Dia mengungkapkan, saat hendak melempar pukat, tiba-tiba nelayan diterjang angin kencang, namun saat hendak menepi ke daratan justru mereka dihantam gelombang setinggi 3 meter.

"Tadinya sudah sempat menabur pukat (jaring), tiba-tiba angin kencang menghadang. Kami berniat pulang tetapi saat mau mendarat terjadi musibah perahu terbalik yang merenggut nyawa Miswar dan Ibnu Hajib, akibatnya dua nelayan meninggal dunia dan 2 lagi kritis serta sembilan lainnya selamat," ungkap Hasbi.

Ke-11 orang nelayan tersebut masing-masing adalah Ibnu Hajib (60) dan Miswar (50) meninggal dunia. Korban kritis Muhammad Tahir dan Darmandi dirawat di Puskesmas. Korban selamat, Hasbi (62), Muslem (47), Suhardi (27),  Adi Bisu (21), Syafrijal (25), Ismail R (43) dan Muhammad Nasir (25).



Pewarta: Pewarta : Hendrik
: Salahuddin Wahid

COPYRIGHT © ANTARA 2026