Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea Cukai Provinsi Aceh Safuadi di Banda Aceh, Jumat, mengatakan targer penerimaan negara dari bea dan cukai pada 2022 sebesar Rp4,4 miliar lebih. Sedangkan realisasinya mencapai Rp54,8 miliar.
"Hingga triwulan ketiga atau September 2022, penerimaan negara dari bea dan cukai di Aceh mencapai Rp54,8 miliar dari target Rp4,4 miliar atau 1.224,8 persen," kata Safuadi.
Menurut Safuadi, penerimaan negara tersebut disokong bea masuk. Target bea masuk Rp3,2 miliar dan realisasinya mencapai Rp11,5 miliar atau 352,8 persen.
Begitu juga dengan penerimaan negara dari cukai, kata Safuadi, target pada 2022 hanya Rp293,7 juta. Namun realisasinya mencapai Rp1,9 miliar atau 628 persen.
Selain bea masuk, kata Safuadi, penerimaan negara yang terbanyak disumbangkan bea keluar. Realisasi penerimaan bea keluar mencapai Rp41,3 miliar dari target Rp900,7 juta atau lebih dari 4.588,8 persen.
"Pesatnya penerimaan bea keluar disumbangkan dari produk kelapa sawit. Hal ini karena ekspor minyak mentah sawit atau CPO melalui Pelabuhan Calang, Kabupaten Aceh Jaya," kata Safuadi.
Safuadi mengatakan Bea Cukai Aceh juga melakukan berapa upaya mendukung program pemulihan ekonomi nasional (PEN). Di antaranya memberi fasilitas kepada pengusaha di provinsi ujung barat Indonesia tersebut.
Hingga kini, kata Safuadi, fasilitas kepabeanan diberikan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea Cukai Provinsi Aceh di antaranya lima pusat logistik berikat dan dua kawasan berikat.
Kemudian, satu kawasan ekonomi khusus, satu kawasan pelabuhan bebas, delapan tempat penimbunan sementara, delapan kawasan pabean, 16 fasilitas pembebasan bea masuk.
"Kami juga berupa mendukung dan menyukseskan program-program rencana jangka panjang untuk peningkatan perekonomian masyarakat Aceh," kata Safuadi.
Pewarta: Muhammad HSAEditor : M.Haris Setiady Agus
COPYRIGHT © ANTARA 2026