Selasa, 24 Oktober 2017

Nelayan dilarang melaut pada hari Tasyrik

id aceh selatan, nelayan, hari tasyrik
Nelayan dilarang melaut pada hari Tasyrik
Dokumentasi - Nelayan membersihkan perahu dan kapal pada hari larangan melaut di aliran sungai Krueng Aceh, Kampung Jawa, Banda Aceh, Aceh, Senin (6/6). Nelayan Aceh dilarang melaut pada setiap hari pemotongan hewan (meugang) hingga hari pertama Ramadhan dan hari besar keagamaan serta peringatan bencana tsunami yang diatur dalam hukum adat laot yang berimbas terhadap kenaikan harga ikan. (ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/pd/16)
Tapaktuan (ANTARA Aceh) - Nelayan di Kabupaten Aceh Selatan dilarang melaut pada Hari Raya Idul Adha sampai berakhirnya Hari Tasyrik selama tiga hari, karena . 
     
Panglima Laot (lembaga data laut) Kabupaten Aceh Selatan, Tgk M Jamil di Tapaktuan, Kamis menyebutkan, khusus terhadap hari-hari besar Islam seperti Hari Raya Idul Adha, para nelayan setempat telah mengurungkan niatnya pergi melaut sejak satu hingga dua hari menjelang lebaran yakni disaat hari meugang (motong).
     
Larangan ini juga berlaku terhadap hari-hari tertentu lainnya seperti Hari Raya Idul Fitri hingga dua hari setelahnya, setiap hari Jumat, hari Kenduri Laot, kenduri Maulid Nabi Muhammad SAW, 17 Agustus dan pada peringatan bencana gempa bumi disertai tsunami yang jatuh setiap tanggal 26 Desember setiap tahunnya.
     
Aturan yang sudah berlaku sejak masa Kerajaan Aceh dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda dan pejuang Aceh dari kaum perempuan Malahayati tersebut, hingga saat ini masih ditaati dan dipatuhi oleh para nelayan setempat. 
     
Meskipun aturan itu tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan negara, namun terhadap siapa saja yang melanggar akan dijatuhi sanksi oleh pihak panglima laot.
     
"Sebenarnya pada hari meugang tersebut tidak ada pelarangan melaut, namun biasanya para nelayan dengan kesadaran sendiri langsung memilih tidak melaut," kata M Jamil.
     
Menurutnya, dalam pelaksanaan di lapangan pihaknya bersama panglima laot di masing-masing kecamatan telah beberapa kali menjatuhkan sanksi terhadap oknum nelayan tertentu yang tetap nekad melaut pada hari yang dilarang tersebut.
     
"Kasusnya sudah ada beberapa kali kami temukan baik di wilayah Kecamatan Sawang, Meukek, Labuhanhaji hingga di Kecamatan Bakongan. Bentuk sanksi yang kami jatuhkan baik berupa denda satu ekor kambing lengkap dengan bumbu-bumbunya hingga dalam bentuk uang senilai Rp2,5 juta. Kambing tersebut untuk digelar kenduri bersama para nelayan setempat," ungkapnya.
     
M Jamil mengaku, saat menjatuhi sanksi dimaksud tidak jarang pula pihaknya mengalami kendala dan hambatan di lapangan karena mendapat aksi protes dari pihak keluarga nelayan bersangkutan yang tidak bisa menerima sanksi yang dijatuhkan tersebut, namun karena aturan itu telah menjadi kesepakatan bersama sehingga mau tidak mau atau suka tidak suka terpaksa tetap harus dijalankan.
     
Kasus itu, sambung M Jamil, seperti yang terjadi di wilayah Kecamatan Bakongan pada Hari Raya Idul Fitri lalu. Karena di sekitar perairan laut setempat secara kebetulan keluar udang sabu dalam jumlah banyak, beberapa warga setempat nekad terjun ke laut mengambil udang sabu meskipun saat itu baru dua Hari Raya Idul Fitri.     
     
"Karena tindakan itu jelas-jelas telah melanggar aturan, maka oleh pihak panglima laot Kecamatan Bakongan menjatuhkan sanksi terhadap beberapa warga dimaksud berupa denda sejumlah uang," ujar dia.


Editor: Salahuddin Wahid

COPYRIGHT © ANTARA 2016

Baca Juga