Ia menambahkan kegiatan WBBM merupakan bagian dari komitmen untuk mewujudkan birokrasi yang aman, humanis, berintegritas dan bebas dari segala bentuk eksploitasi, kekerasan, dan pelecehan.
“Ketika terjadi pelanggaran, bukan hanya korban yang terluka, tetapi juga wibawa lembaga dan kepercayaan publik ikut runtuh. Dalam budaya Aceh, kepercayaan adalah pondasi bagi keharmonisan sosial,” katanya.BKKBN Aceh siap dampingi anak korban kekerasan dan pelecehan seksual
Pihaknya berkomitmen mewujudkan lingkungan kerja yang menghormati martabat setiap manusia, sesuai dengan nilai adat, syariat, dan prinsip pelayanan publik yang berkeadaban.
Sekda Aceh M Nasir mengatakan eksploitasi, kekerasan seksual, dan pelecehan bukan hanya pelanggaran etika, tetapi ancaman serius terhadap rasa aman, produktivitas, dan integritas lembaga.
“Pemerintah Aceh terus mendorong penguatan budaya kerja yang profesional, transparan, serta bebas dari penyalahgunaan wewenang,” kata M Nasir dalam pidato tertulis dibacakan Plt Kadinkes Aceh, Ferdiyus.
Ia menjelaskan upaya mencapai predikat WBK dan WBBM bukan sekadar memenuhi indikator penilaian, melainkan memastikan bahwa pelayanan publik berjalan secara bermartabat, berempati, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
Menurut dia setiap ASN memegang peran strategis sebagai garda terdepan yang menentukan wajah birokrasi di mata masyarakat.
“Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat pemahaman bersama, sekaligus menegaskan komitmen bahwa lingkungan kerja pemerintah harus menjadi ruang yang aman bagi semua orang, tanpa diskriminasi dan tanpa bentuk kekerasan apa pun,” katanya.
Baca: BKKBN Aceh gencar program gerakan orang tua asuh stunting
Pewarta: M IfdhalEditor : M.Haris Setiady Agus
COPYRIGHT © ANTARA 2026