Pesta rakyat, nafas ekonomi lokal

Bagi Bupati Abdya, Safaruddin, angka 15.178 leumang ini bukan sekedar statistik untuk gagah-gagahan di piagam MURI. Ada filosofi pemberdayaan ekonomi yang berdenyut di balik setiap batang bambu yang terbakar.

"Kegiatan ini harus memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat kecil. Kita ingin ada perputaran ekonomi, di mana bahan baku seperti bambu, beras ketan, dan buah kelapa semuanya diserap dari hasil petani lokal Abdya," tegas Bupati saat memantau lokasi.

Ucapan Bupati bukan isapan jempol. Secara teknis, untuk menghasilkan 15.178 batang leumang, dibutuhkan ribuan butir kelapa, berton-ton ketan, dan pasokan ribuan bambu buluh yang mudah didapat.

Semua bahan ini, terutama bambunya dibeli langsung dari kebun-kebun warga dari sembilan kecamatan di Abdya. Dalam satu pekan persiapan, uang berputar deras di akar rumput, menghidupkan kembali sendi-sendi ekonomi rakyat yang sempat lesu. 

Menurut Bupati Safaruddin, ini salah satu instrumen promosi daerah yang berbasis pada kekuatan lokal.

 

Leumang dan tape, dua sejoli dari indatu

Jika leumang adalah tubuhnya, maka tape ketan adalah jiwanya. Peribahasa ini nampaknya dipegang teguh oleh panitia pelaksana.

Ketua Panitia HUT ke-24 Abdya, Jufri Yusuf, menjelaskan bahwa selain 15.178 batang leumang, mereka juga menyediakan 27.100 bungkus tape ketan (tapai) sebagai pendamping wajib.

"Makan leumang tanpa tape itu tidak lengkap. Ini tradisi indatu (nenek moyang) kita yang harus terus kita rawat," kata Jufri. 

Angka-angka ini, 15.178 dan 27.100 menjadi simbol kembar bagi semangat kemajuan ekonomi dan pelestarian tradisi di Bumoe Breuh Sigupai.



Pewarta: Suprian
Editor : M.Haris Setiady Agus

COPYRIGHT © ANTARA 2026