Aceh Barat Daya (ANTARA) - Gumpalan asap membumbung tinggi, menari-nari di sela pepohonan sepanjang Jalan Manyang hingga ke bantaran Krueng Beukah, Kecamatan Blangpidie Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya).

Sabtu, 25 April 2026 ini, saat matahari baru merekah dari ufuk timur, sebuah sejarah sedang ditulis dengan api dan bambu talang/buluh di jantung kota kabupaten berjuluk Bumoe Breuh Sigupai itu. 

Wangi gurih santan yang mendidih di dalam bambu menyeruak, bercampur dengan aroma khas kayu kering dan sabut kelapa yang terbakar. Sebanyak 15.178 batang leumang dibakar secara massal. 

Bukan sekedar urusan perut, ini adalah hajatan besar bertajuk "Meuseraya Toet Leumang" dalam rangka memperingati HUT ke-24 Abdya. Targetnya memecahkan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sekaligus meneguhkan identitas budaya di kancah nasional dan global.

Belasan ribu batang bambu yang telah diisi beras ketan pilihan di campur santan kelapa berderet rapi, bersandar pada gawang-gawang besi dan kayu di atas bara api sepanjang ratusan meter.

Peserta yang terlibat bukan hanya dari kalangan pegawai pemerintahan, melainkan juga dari organisasi kepemudaan, ibu-ibu PKK, hingga kelompok tani dari desa-desa se Abdya. 

Mereka bahu-membahu menjaga api agar tetap stabil. Tak ada sekat antara pejabat dan rakyat, semua mata pedih karena asap, peluh bercucuran di dahi, namun canda tawa tetap pecah di sela-sela kesibukan membolak-balik bambu lemang agar matangnya merata.

Proses "Toet Leumang" atau bakar leumang ini sendiri bukanlah perkara mudah. Membutuhkan insting dan kesabaran tinggi. Api tidak boleh terlalu besar agar bambu tidak hangus sebelum ketan-nya tanak. 

Sebaliknya, api juga tidak boleh terlalu kecil agar santan di dalamnya tidak basi. Inilah metafora gotong royong yang ingin ditunjukkan warga Kabupaten Abdya kepada dunia, sebuah harmoni dalam mengelola api perjuangan daerah.



Pewarta: Suprian
Editor : M.Haris Setiady Agus

COPYRIGHT © ANTARA 2026