Menjelang siang, aroma leumang yang sudah matang perpaduan antara aroma daun pisang muda yang menjadi pelapis dalam bambu dan gurihnya ketan mulai mengundang selera.
Sesuai instruksi Bupati, tidak ada leumang yang boleh mubazir. Ribuan warga yang memadati lokasi, bahkan para musafir yang kebetulan melintas kawasan, dipersilakan mencicipi hidangan tersebut secara cuma-cuma.
Ini adalah pesta rakyat yang sesungguhnya. Rakyat yang menanam, rakyat yang membakar, dan rakyat pula yang menikmati hasilnya sebagai wujud rasa syukur atas usia kabupaten yang kian dewasa.
Jejak ulama di balik seruas bambu
Dibalik hiruk-pikuk pemecahan rekor tersebut, tersimpan narasi sejarah yang menghubungkan Abdya dengan jaringan peradaban Islam di Nusantara.
Seorang tokoh masyarakat setempat, M Yusuf mengisahkan bahwa penganan ini memiliki akar historis yang kuat sejak masa Kesultanan Aceh Darussalam.
"Secara turun-temurun diceritakan bahwa leumang berasal dari masa Kerajaan Aceh. Kuliner ini kemudian mendunia seiring dengan syiar Islam yang dilakukan oleh para ulama ke berbagai penjuru Nusantara," katanya.
Dalam catatan sejarah, tradisi toet leumang ini menyebar sampai ke Semenanjung Melayu - Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, hingga Thailand Selatan.
Pergerakan para pedagang dan pengembara asal Sumatera menjadi motor utama penyebaran tradisi kuliner ini. Yang paling menarik adalah kaitan antara leumang dengan ukhuwah (persaudaraan) antarwilayah.
Di wilayah Minangkabau, Sumatera Barat, tradisi leumang (lamang) dibawa oleh ulama besar Syekh Burhanuddin. Usut punya usut, Syekh Burhanuddin adalah murid langsung dari ulama kharismatik kebanggaan rakyat Aceh, Syekh Abdurrauf As-Singkili atau yang lebih dikenal dengan gelar Syiah Kuala.
Pewarta: SuprianEditor : M.Haris Setiady Agus
COPYRIGHT © ANTARA 2026