Hubungan guru-murid ini membuktikan bahwa leumang adalah media dakwah dan diplomasi budaya. Di masa lalu, leumang menjadi bekal praktis bagi para pengelana dan pejuang karena daya tahannya yang lama berkat proses memasak di dalam bambu yang bersifat steril.
Kini, di Abdya, seruas bambu itu kembali menjadi pemersatu pasca-hiruk pikuk politik dan dinamika sosial.
Simbol kebangkitan daerah
Seiring api yang mulai mengecil dan ribuan batang leumang yang habis terbagi, ada sebuah harapan besar yang tertinggal di sepanjang bantaran Krueng Beukah.
HUT ke-24 Abdya tahun ini bukan sekadar perayaan angka, melainkan momentum bagi kabupaten ini untuk percaya diri tampil di panggung nasional.
Aksi "Meuseraya Toet Leumang" adalah manifesto bahwa Abdya memiliki kekayaan komoditas, kekuatan gotong royong, dan akar sejarah yang luhur. Kegiatan ini diharapkan menjadi pemantik bagi sektor pariwisata kuliner yang lebih profesional ke depannya.
Bupati Safaruddin, ingin agar leumang Abdya tidak hanya muncul setahun sekali, tapi menjadi oleh-oleh khas yang dicari wisatawan setiap kali menginjakkan kaki di Blangpidie. Dengan begitu, kesejahteraan petani ketan, kelapa, dan pengrajin bambu akan terus terjaga.
Melalui asap yang membumbung hari itu, Abdya seolah mengirim pesan ke seluruh Indonesia: bahwa dari tanah Bumoe Breuh Sigupai, tradisi indatu takkan pernah padam, justru ia akan terus membara, membawa harum nama daerah ke seantero negeri.
Bagi warga Abdya, Sabtu itu bukan hanya tentang rekor MURI. Ini tentang rasa syukur yang meluap, tentang aroma masa lalu yang tetap relevan di masa depan, dan tentang kebersamaan yang dipanggang di atas bara api yang sama.
Perayaan ini pun berakhir dengan haru saat petugas MURI mulai melakukan verifikasi akhir. Namun bagi rakyat, sertifikat di atas kertas mungkin hanyalah bonus. Sertifikat yang sesungguhnya adalah eratnya silaturahmi yang terjalin di sela-sela kepulan asap leumang.
Pewarta: SuprianEditor : M.Haris Setiady Agus
COPYRIGHT © ANTARA 2026