Meulaboh (ANTARA) - Bisnis tempahan gagang batu cincin yang terbuat dari perak hingga kini masih menjanjikan dan terus digeluti oleh pengrajin lokal di Kabupaten Aceh Barat.

Meski mengalami pasang surut, bisnis tersebut tetap berjalan dan dianggap menjanjikan sebagai sumber ekonomi dan pendapatan masyarakat setempat.

"Alhamdulillah, kami masih bisa bertahan di tengah lesunya permintaan tempahan gagang batu cincin. Karena peminatnya masih ada, meski tidak ramai seperti beberapa tahun belakangan ini," kata Iwan, seorang pengrajin gagang batu cincin, warga Desa Ranto Panyang, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat kepada Antara, Jumat (5/4).

Harga yang ditawarkan kepada konsumen juga bervariasi, berkisar antara Rp700 ribu hingga Rp800 ribu per gagang dan disesuaikan dengan tingkat kerumitan pembuatan serta motifnya.

Dalam satu bulan, Iwan mengaku bisa membuat pesanan gagang batu dari konsumen mencapai puluhan unit.

"Kalau di era tahun 2014-2015 lalu sangat banyak sekali permintaan. Tapi sekarang ini agak jarang, alhamdulillah kami masih bisa bertahan," tambahnya.

Bisnis gagang batu cincin yang terbuat dari perak tersebut telah ditekuni selama puluhan tahun dan merupakan kerajinan tangan yang dilakukan sejak turun temurun.

Sebagian masyarakat di Ranto Panyang, Kecamatan Meureubo menjadikan kerajinan tersebut sebagai salah satu mata pencaharian yang paling menjanjikan untuk menghasilkan uang, serta mampu menjadi lapangan kerja yang menjanjikan.
 

Pewarta: Teuku Dedi Iskandar
Editor : Heru Dwi Suryatmojo

COPYRIGHT © ANTARA 2026