Meulaboh (ANTARA Aceh) - Wakil Bupati Aceh Barat, H Banta Puteh Syam, meminta peran strategis "Keujren Blang" (pemangku adat tani sawah) untuk lebih aktif dalam mengatur distribusi air ke sawah di tengah kondisi terbatasnya sumber air.

"Kelembagaan kejruen blang sebagai pemangku adat sawah dan sebagai ketua adat merupakan tokoh sentral memegang peranan penting dalam kegiatan pertanian di Aceh, khususnya di Aceh Barat," katanya di Meulaboh, Rabu.

Hal itu disampaikan Banta Puteh Syam, dalam sambutannya saat membuka sosialisasi perturan Gubernur Aceh Nomor 45 Tahun 2015 tentang Peran Keujruen Blang dalam Pengelolaan Irigasi di Aceh Barat.

Menurut dia, keberhasilan proses pembangunan pertanian dan masyarakat pedesaan, selain ditentukan oleh inovasi teknis dan layanan dari pemerintah, juga sangat ditentukan oleh sistem yang dikembangkan oleh pelaku usaha pertanian di pedesaan.

Kelembagaan lokal merupakan salah satu sitem yang dipandang sangat penting yang tumbuh dan dibangun oleh masyarakat lokal dan telah berjalan dengan efektif dalam mengatur berbagai kepentingan, termasuk dalam bidang pertanian.

"Masyarakat Aceh secara umum memiliki pengetahuan lokal dalam mengatur dan mengelola pertanian sawah melalui lembaga adat keujreun blang. Jadi, ini sangat penting untuk keberhasilan pertanian," sebutnya.

Lebih lanjut dikatakan, peran keujruen blang cukup dominan dalam memberdayakan petani, perannya mencakupi mengatur dan mengkoordinasikan pembagian air kepda sawah petani dan memimpin pelaksanaan gotong royong.

Kemudian juga memastikan, terlaksanakanya berbagai kesepakatan adat dan terlibat langsung dalam penyelesaian sengketa di tingkat petani sehingga mendorong terwujudnya ketahanan pangan lokal suatu daerah.

Banta Puteh mengutarakan, peran tersebut memiliki relevansi yang sangat kuat dalam pembangunan pertanian berkelanjutan, karena dapat memperkuat modal sosial dan demokratisasi lokal guna menciptakan harmonisasi dan kesejahteraan petani.

"Karenanya upaya pemberdayaan fungsi keujruen blang harus ditingkatkan agar sistem pengelolaan persawahan berjalan dengan baik, sesuai dengan tujuan Gubernur Aceh untuk mendayagunakan potensi air yang tersedia," katanya menambahkan.

Ratusan hektare area pesawahan di Kabupaten Aceh Barat, dalam beberapa pekan ini mulai mengering sehingga petani tidak bisa melakukan cocok tanam setelah lahan sawah digarap beberapa waktu lalu.

Keringnya sawah petani di Aceh Barat ini terjadi sejak dilanda kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama seperti di area sawah yang jauh dengan sumber air, apalagi sebagian besar lahan sawah di daerah itu merupakan sawah tadah hujan.

Irigasi Lhok Guci di Kecamatan Pante Ceureumen, yang semula diharapkan dapat membantu petani, namun hingga kini belum bisa dimanfaatkan, Pemerintah Pusat terus mengejar tuntasnya pekerjaan proyek jaringan irigasi di kawasan setempat.




Pewarta: Anwar
Uploader : Salahuddin Wahid

COPYRIGHT © ANTARA 2026