Pemilik industri "Kerupuk Jangek Sabena", Robi Susanto di Meulaboh, Senin mengatakan, biasanya mereka berproduksi 30-40 kg per hari atau rata-rata 5-6 ekor kulit ternak besar (kerbau dan sapi), saat ini naik sampai 50 kilogram atau 10 ekor per hari.
"Yang paling banyak permintaan yang kita kirim ke Medan dan Padang, kalau untuk Aceh, masih di wilayah barat selatan Aceh. Jumlah produksi kita per hari pada kisaran 50 kilogram, masih terbatas karena fasilitas yang kami miliki masih serba manual," sebutnya.
Robi Susanto, menjelaskan, bangsa pasar terbanyak yang memesan kerupuk berbahan baku kulit ternak besar dari Kabupaten Aceh Barat tersebut, adalah pasar Medan, Sumatera Utara dan Padang, Sumatera Barat.
Untuk pertama sekali usaha kerupuk tersebut membalikkan sistem pemasaran bahan produksi lokal untuk pasar luar Aceh, biasanya Provinsi Aceh yang selalu ketergantungan bahan sembako hingga kerupuk dari Medan, tapi saat ini dari Aceh dikirim ke Sumut.
Robi menyampaikan, kerupuk kulit yang mereka jual ke pasar berbentuk kemasan, mulai dari harga paling murah Rp1.000 per kemasan, hingga Rp150.000/kg-Rp200.000/kg, mereka menjual produk kerupuk kulit sesuai permintaan dan kebutuhan pesanan.
Ia juga menyatakan, bahwa sejak memasuki Januari 2018, kegiatan industri pengolahan kerupuk dari bahan baku kulit ternak besar itu sangat stabil dan lancar karena cuaca mendukung, biasanya proses pengolahan terganggu apabila musim penghujan.
"Selama Januari 2018 ini lancar, karena tidak hujan. Kalau kondisi hujan itu akan sangat menyulitkan, terutama saat penjemuran dan pembersihan bahan baku kulit ternak yang sudah direbus dengan air panas harus dijemur sebelum dipotong-potong," sebutnya.
Lebih lanjut dikatakan, apabila bahan baku kulit mentah diolah saat musim hujan, artinya lama tidak bisa dijemur karena hujan, maka akan merubah kualitas bahan baku maupun rasa kerupuk jangek setelah penggorengan, apalagi proses produksi dilakukan manual.
Robi menjelaskan, pihaknya pernah mendapat satu unit mesin bantuan untuk pengolahan lebih moderen, akan tetapi setelah dilakukan uji coba produksi, ternyata rasa dan bentuk kerupuk jangek yang mereka hasilkan tidak sama dan warnanya berubah.
Dia menyatakan, penjualan kerupuk jangek yang dilepas ke pasar lebih banyak berbentuk kemasan kecil karena lebih cepat laku terjual dan banyak dibutuhkan pedagang, ketimbang menggunakan kemasan Rp12 ribu sampai Rp30 ribu per kemasan.
"Dengan keterbatasan buruh kerja, produksi kerupuk hanya untuk kebutuhan pemesanan dan toko-toko yang sudah berlangganan. Swalayan juga ada yang meminta, tapi kita tidak berikan karena sulit, berputaran keuangannya juga lama," katanya.
Pewarta: AnwarUploader : Salahuddin Wahid
COPYRIGHT © ANTARA 2026