Wahid, nelayan yang dijumpai di Pelabuhan Perikanan Lampulo, Banda Aceh, Kamis, mengaku sejak sepekan terakhir tidak melaut karena kesulitan untuk mendapatkan solar di SPBN.
"Kami nelayan dari Pulau Nasi dan Pulau Beras, Kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar. Kami sudah seminggu tidak melaut karena solar langka," kata Wahid.
Wahid mengatakan, nelayan dari Pulau Nasi dan Pulau Beras setiap hari mendatangkan solar dari SPBN di Banda Aceh menggunakan jasa penyeberangan kapal kayu.
Selain kelangkaan solar, nelayan dari pulau terluar itu juga terpaksa mengeluarkan uang tambahan untuk biaya transportasi dari Banda Aceh ke Pulau Nasi dan Pulau Beras.
Untuk mendapatkan bahan bakar minyak. kami terpaksa antre sejak di SPBN sejak pagi hingga sore. Dan ini tentu sangat merugikan kami," kata Wahid.
Senada juga dikeluhkan sejumlah nelayan lainnya di Lampulo, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh. Mereka juga mengaku sulit mendapatkan bahan bakar minyak jenis solar.
Nurdin, nelayan pukat, mengatakan, antrean mendapatkan solar sejak sepekan terakhir karena terbatas persediaan solar di SPBN.
"Kapal ukuran kecil sedikitnya membutuhkan tiga jerigen solar ukuran 30 liter per jerigen. Itu untuk kebutuhan selama sehari melaut," ungkap Nurdin.
Sedangkan kapal ukuran besar, sebut Nurdin, membutuhkan satu hingga empat ton solar, bahkan lebih, menurut jenis kapalnya. Namun, tidak semua kapal nelayan mendapatkan solar di SPBN yang ada di kawasan Lampulo.
Sementara kuota solar di SPBN di Lampulo, sehari hanya delapan ton. Sedangkan jumlah kapal ukuran kecil dan ukuran besar mencapai ratusan unit.
"Mana mungkin dengan kuota delapan ton sehari, dapat memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak ratusan unit kapal nelayan. Kami berharap ada tambahan kuota solar untuk nelayan, sehingga aktivitas melaut berjalan normal," kata Nurdin.
Pewarta: M.Haris Setiady AgusEditor : Heru Dwi Suryatmojo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.