Banda Aceh (ANTARA) - Tangannya tampak begitu cekatan memainkan alat tenun tradisional. Sesekali, jemarinya memegangi benang agar proses penenunan tidak terhambat.
"Beginilah. Kami masih tetap bertahan di tengah pandemi COVID-19 melanda dunia. Pandemi juga menyebabkan penjualan songket menurun drastis," kata Jasmani (56), perajin songket Aceh di Gampong Mireuk Taman, Kecamatan Darussalam, Kabupaten Aceh Besar, Selasa.
Jasmani sudah melalui banyak fase mengembangkan kerajinan songket Aceh. Fase konflik, tsunami, hingga pandemi. Usaha tenun tradisional tersebut tetap bertahan.
Wanita paruh baya itu menekuni dan membuka usaha songket Aceh sejak 1990-an. Kini, ia mengembangkan usaha kerajinan tradisional tersebut di rumahnya di Gampong Mireuk Taman.
Jasmani menuturkan awal mulanya kerajinan tenun tersebut dikelola pihak desa atau gampong. Namun, konflik mendera Aceh hingga tsunami akhir 2004 membuat usaha tersebut terhenti.
Jasmani dan para perajin songket lainnya akhir membuka dan mengembangkan usaha masing-masing guna melanjutkan ketrampilan menenun yang mereka miliki.
"Hingga sekarang saya bisa membuka lapangan pekerjaan sekaligus melestarikan kebudayaan daerah. Saya ingin masyarakat di sekeliling saya bisa ikut berkontribusi mengembangkan songket Aceh," ucap Jasmani.
Sekarang, perajin songket bersama Jasmani sebanyak 10 orang. Lima orang di antaranya merupakan perajin lama. Sedangkan lima lainnya merupakan generasi baru yang akan melanjutkan kerajinan songket tersebut
Jasmani menuturkan membuat selembar songket dengan panjang enam meter membutuhkan waktu sekitar satu bulan lamanya. Pembuatannya dilakukan dalam beberapa proses
Proses pertama ngelos, kemudian menghani atau menghitung berapa banyak benang yang ingin dipasang, selanjutnya menggarap yaitu memasukkan benang dalam garap.
"Keseluruhan ada tujuh proses sampai menenun hingga kain tenunan menjadi songket. Setiap individu bertanggung jawab terhadap songket yang dibuat," kata Jasmani.
Pandemi COVID-19 yang kini masih berlangsung juga memberi dampak negatif bagi kerajinan songket yang digeluti Jasmani. Wabah virus corona itu membuat penjualan songket yang diproduksinya menurun
"Penjualan turun hingga 30 persen dari sebelum pandemi COVID-19. Kami pandemi ini segera usai agar permintaan pasar songket yang kami buat normal kembali," kata Jasmani.
"Dulu, misalnya lima menenun, tidak ada yang tersisa, semua terjual. Sekarang, banyak songket yang tidak terjual. Namun begitu, kami tetap bertahan, melestarikan songket Aceh," ujar Jasmani.

Pandemi COVID-19 juga memaksa Jasmani mengubah metode penjualan dari konvensional ke digital. Selain tidak ingin ketinggalan zaman, Jasmani juga memanfaatkan kemajuan teknologi, menjual songket melalui pasar digital.
"Kami juga menjual songket melalui media sosial seperti facebook maupun instagram. Kami belum menjual melalui pasar digital seperti Shopee karena terkendala dengan persediaan," kata Jasmani menyebutkan.
Untuk harga, berkisar Rp1,5 juta hingga Rp3,5 juta per set. Sedangkan per meter, dijual Rp400 ribu hingga Rp800 ribu. Motif yang dijual beragam, di antaranya bungong delima, pucuk meriah, pintu aceh, dan pucuk rebung, kata Jasmni.
Menyangkut bahan baku songket, Jasmani mengaku mendapat kendala karena ada bahan yang sulit didapat di Aceh, sehingga harus dibeli dari provinsi lain.
"Alat tenun seperti sisir dibeli dari Palembang, Riau, ataupun Bengkulu. Sebab alat tersebut sukar didapatkan di Aceh," timpal Pahriansyah, suami Jasmani, yang juga perajin songket.
