Stya menjelaskan, kualitas udara dipengaruhi oleh beberapa faktor, dan yang paling dominan adalah polusi dari pabrik-pabrik atau industri besar. Kemudian, juga disebabkan adanya polutan zat karbon yang bisa bersumber dari kebakaran hutan seperti yang terjadi di Riau atau Kalimantan.
Kualitas udara Aceh baik, kata Diaz selain kurangnya industri besar atau kebakaran, juga sering turunnya hujan dan masih berpotensi hingga beberapa waktu kedepan.
"Sehingga partikel polutan di udara juga cenderung berkurang, karena sifat hujan sendiri dapat membersihkan polutan yang mencemari udara," katanya.
Dirinya menuturkan, Jakarta belakangan ini terjadi peningkatan kualitas udara yang buruk, semua itu disebabkan polutan industri, pembakaran tidak sempurna kendaraan bermotor.
"Kemudian, Jakarta juga sudah lama tidak terjadi hujan, sehingga partikel polutan bertahan di udara dan mencemari lingkungan," ujarnya.
Meskipun udara Aceh tergolong baik, Stya juga mengimbau kepada masyarakat untuk terus menjaga lingkungan minimal dengan tidak membakar sampah.
Lalu, perbanyak menggunakan kendaraan umum ketimbang pribadi, sehingga polusi nya tetap selalu lebih rendah, dan beraktivitas sewajarnya.
Selanjutnya, masyarakat diharapkan dapat menghindari membuka lahan dengan cara membakar, karena dapat menimbulkan sumber hotspot yang berpotensi menimbulkan karhutla jika api menyebar. Karena polutan dari pembakaran lahan dapat mencemari udara.
"Ini perlu diperhatikan karena masih banyak masyarakat baik petani mandiri/perorangan maupun lembaga perkebunan yang membuka lahan dengan cara dibakar, umumnya terjadi di Aceh Besar, Aceh Tengah, Bener Meriah," demikian Stya.
Baca juga: BMKG prakirakan cuaca Banda Aceh cerah